Jumat, 24 Februari 2012

Menikmati Keragaman Wisata di Kota Bunga

TOMOHON
Menikmati Keragaman Wisata di Kota Bunga
Menikmati Keragaman Wisata di Kota Bunga
KORAN JAKARTA/HARYO BRONO
Kota Tomohon yang berada pada ketinggian 700-800 dpl memiliki kualitas udara yang sejuk dengan tanah yang subur. Berbagai tanaman berbunga tumbuh subur dan menghiasi panorama yang menjadi ciri khas kota itu. Tomohon memang sejak lama terkenal sebagai produsen bunga di Sulawesi Utara.

Produk bunga dari Tomohon bahkan telah diekspor hingga mancanegara. Ketika Koran Jakarta singgah pada pertengahan Januari lalu, tampak di sepanjang jalan kota ini banyak pedagang bunga potong dalam kondisi masih segar. Bunga krisan, aster, anyelir, dahlia, ros, dan lainnya tampak dijajakan dan dapat dibeli dengan harga yang relatif murah.

Setiap tahun, pada bulan Juli, di Tomohon diadakan festival bunga yang disebut dengan Tomohon Flower Festival. Pada acara itu, diadakan kegiatan pemilihan ratu bunga dan Tomohon International Choir Competition (TICC), sebuah festival paduan suara yang diikuti oleh banyak kontestan luar negeri.

Di sebelah timur Kota Tomohon ke arah Gunung Mahawu yang datarannya lebih tinggi dari pusat kota, terdapat sentra agrowisata. Di sini penduduknya memanfaatkan ketinggian untuk bercocok tanam sayuran berhawa sejuk seperti kol, bawang daun, seledri, sawi putih, buncis, dan wortel. Tanaman sayuran yang ditanam dengan teknik terasiring dan bersusun ini menjadi pemandangan indah serta menakjubkan bagi para wisatawan.

Alternatif Lain
Selain dikenal dengan kota bunga dan sayuran, Tomohon dikenal dengan pasar dagingnya. Berbeda dengan pasar daging umumnya, pasar daging dengan nama Pasar Beriman menyediakan segala macam daging dari hewan yang biasa hingga kurang biasa, seperti daging sapi, kambing, babi, kelelawar, ular, tikus, kucing, anjing, dan kera.

"Orang Minahasa memang makan apa saja," ujar David Togas, seorang pemandu wisata resmi di sana. Daging-daging itu biasanya dibeli, baik untuk konsumsi makanan sehari-hari maupun keperluan pesta hajatan. Perayaan ulang tahun, syukuran, memasuki rumah baru, tidak lepas dari pesta dengan mengundang sanak saudara.

Biasanya orang Minahasa memasak daging dengan cara dibakar, dimasak di bambu (tinoransak, pangi), atau dimasak loba, yaitu dengan bumbu kecap manis dan gula aren. David mengatakan cara masak dengan cara dipanggang langsung dapat dilakukan di dekat pasar. Babi panggang, misalnya, dimasak dengan cara dibuang isi jeroannya.

Setelah itu, dimasukkan aneka sayuran dan dipangang dengan cara diputar. Selanjutnya, setelah masak, daging dipotong-potong dan siap dimakan. Wisatawan tentu tidak harus repot memasak dari daging ekstrem ini. Mereka yang bernyali dan ingin bertualang kuliner hingga titik ekstrem ini cukup memesan ke beberapa rumah makan di Tomohon, misalnya RM Megfra, Heng-Mien, Tinoor Jaya, Nathan, Pemandangan, Imanuel Ragey, dan Kawangkoan Ragey.

Rumah makan ini dapat dijumpai sepanjang jalan Manado-Tomohon yang memiliki kontur naik turun dan berkelok. David mengatakan dia jarang membawa wisatawan ke tempat ini. Masalahnya, tidak semua wisatawan tega melihat hewan disembelih, apalagi beberapa di antaranya tergolong hewan piaraan dan dilindungi. "Saya hanya menawarkan apakah akan ke Pasar Daging dengan segala konsukuensinya atau tidak," kata dia.

Tur Rohani
Selain mengunjungi wisata nan eksotik di Tomohon, Anda dapat melakukan ziarah rohani. Di sini terdapat kuil campuran Buddha dan Tao bernama Wihara Ekayana. Di wihara itu, terdapat beberapa patung Buddha berjejer di depannya. Ada pula patung Dewi Kwan Im yang posisinya di dalam wihara. Di tempat agak ke tengah, terdapat menara pagoda yang menjulang tinggi.

Hal itu mengingatkan kita pada bangunan rumah ibadah di kawasan pecinan dengan semarak warna-warna mencolok seperti kuning, merah, dan emas. Di sini Anda juga dapat meminta ramalan dengan cara menggerak-gerakkan dan menjatuhkan potongan bambu berisi angka dalam wadah. Angka yang jatuh dicocokkan dengan kartu ciam si yang tersedia di rak-rak sesuai dengan nomornya.

Di Wihara Ekayana agak ke bawah, terdapat patung kurakura. Di depannya terdapat roda berputar agak cepat dan berlubang di tengahnya. "Jika berhasil melempar uang melewati lubang yang berputar, harapan si pelempar akan nasib diyakini akan berhasil," ujar David menerangkan fungsi alat tersebut. hay/R-3

Keheningan di Tepi Danau

Keindahan alam Kota Tomohon memang luar biasa. Satu keindahan lain yang ada di wilayah ini adalah Danau Linow. Telaga yang memiliki luas 34 hektare itu dikelilingi oleh perbukitan sisa letusan gunung api yang membentuk kaldera. Sampai sekarang, aktivitas vulkanik di Danau Linow masih terlihat dengan jelas dengan adanya titik-titik semburan asap belerang di pinggiran danau dan di tengahnya berupa gelembung-gelembung udara dan air danaunya yang berwarna putih.

Uniknya, meski danau yang terletak Kelurahan Lahendong itu terdapat aktivitas vulkanik dengan semburan belerang yang biasanya memiliki PH asam, terdapat kehidupan ikan. Bahkan ratusan burung belibis hidup di danau itu dan mencari ikan dari air danau. Panorama sekitar Danau Linow berupa campuran hutan pegunungan, air yang berwarna putih, hijau dan biru, dan dilengkapi habitat kehidupan satwa.

Selain belibis, di danau itu terdapat aneka burung endemik yang masih terjaga kelestariannya. Alfred Sambalao, seorang pengunjung, mengatakan dia sengaja datang ke tempat itu untuk mengantarkan saudaranya dari Belanda. "Tempat ini banyak dikunjungi wisatawan karena pemandangannya sangat indah." Danau Linow sudah dikelola secara profesional. Di salah satu tepinya, terdapat kafe dengan kursi dan meja, toilet bersih, agar pengunjung dapat dengan nyaman menikmati keindahan sambil berdiskusi atau merenung.

Dengan membayar tiket masuk 25 ribu rupiah, sudah termasuk mendapatkan seduhan air teh atau kopi tergantung selera. Untuk teman minum, pengelola memberikan makanan khas bagea kanari yang terbuat dari sagu. Sambil menikmati kopi, belibis terbang berlatar belakang semburan asap belerang.

Pengunjung biasanya tidak akan lupa melewatkan kesempatan berfoto dengan latar belakang danau hijau yang indah ini. Mengabadikan diri di pinggir danau indah dan bersih adalah pilihan tepat. Kapan lagi menikmati danau indah bebas sampah dan polusi selain mengunjungi danau ini? hay/R-3

Memotret Lokon dari Jarak Dekat

Di Tomohon, masih ada lagi keindahan yang dapat dinikmati, yaitu Gunung Lokon, selain Gunung Mahawu. Gunung Lokon ini lokasinya hanya berjarak 5,3 km dari Kota Tomohon. Gunung ini memiliki ketinggian 1.580 meter dari atas laut. Sejak meletus dahsyat terakhir pada 14 Juli 2011 yang membuat sekitar 100 ribu orang mengungsi, sampai kini Lokon masih terlihat mengepulkan asap putih ke udara.

Pemandangan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke sana. Pemandangan Kota Tomohon pada waktu cerah dihiasi dengan kegagahan Lokon yang berada di barat laut. Jika tidak dalam cuaca mendung, cara paling tepat menikmati pemandangan Lokon adalah pada pagi hari. "Pagi hari biasanya belum ada awan seperti siang," ujar David Togas, sang pemandu wisata.

Ada lagi salah satu cara pas untuk menikmati Lokon, yaitu dari kawasan Lokon Boutique Resort. Di sini pemandangan menuju Lokon sangat dekat atau kurang dari 3 km saja ke puncak. Kepulan asap Gunung Lokon yang muncul dapat terlihat dengan jelas dari Lokon Boutique Resort. Dari posisi ini, terlihat kepulan asap Lokon berasal dari kawah sekunder yang berada di punggung gunung, bukan kawah utama yang letaknya di puncak, sehingga erupsinya disebut dengan erupsi samping.

Untuk dapat masuk ke Lokon Boutique Resort dikenakan biaya 5.000 rupiah per orang. Uang itu tidak sia-sia karena dari lokasi ini bisa didapat gambar pemandangan yang amat indah. Apalagi Lokon Boutique Resort juga merupakan lokasi penginapan dengan taman bunga dan rumput yang menghampar luas.

Fasilitas lainnya yang ada di Lokon Boutique Resort ialah jogging track, lapangan basket, kolam renang, dan lainnya. Jika ingin menginap, di Lokon Boutique Resort tersedia bermacam tipe kamar, mulai dari suite, deluxe, hingga superior. Sebagian penginapan dibuat dengan disain arsitektur rumah panggung yang merupakan ciri khas rumah adat Minahasa. hay/R-3

Eden In The East: Indonesia Pusat Peradaban Dunia


INDONESIA, SALAH SATU PUSAT PERADABAN DUNIA

Dalam perbincangan tentang peradaban tua dunia, Asia Tenggara hampir tidak pernah disebut. Kebanyakan pelajaran sejarah sekolah dan perguruan tinggi serta wacana umum selalu menyebut wilayah seperti Mesopotamia, Mesir, Sungai Indus, Tiongkok, dan Yunani sebagai cikal bakal peradaban dunia. Padahal dalam khasanah penemuan arkeologi Indonesia, banyak ditemukan aneka penemuan artefak prasejarah.

Ditemukannya kerangka manusia yang berumur jutaan tahun, seperti jenis Meganthropus paleojavanicus, Pithecantropus Erectus, dan berbagai macam homo, seperti Homo Soloensis dan Homo Wajakensis, kurang membangun teori asal usul peradaban. Sejarah selalu mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesopotamia, lembah Sungai Indus, China, Mesir, dan Yunani karena wilayah ini menyimpan banyak artefak dan peninggalan tertulis.

Namun, kini, tampaknya orang mulai berpikir ulang sejak kehadiran buku Atlantis karangan Arysio Nunes dos Santos yang menyebut Atlantis, yang tenggelam dengan peradaban tingginya, ada di Asia Tenggara. Buku Atlantis kini diperkuat dengan Eden In The East karangan Profesor Stephen Oppenheimer, seorang mahaguru dari Universitas Oxford Inggris. Dalam buku Eden In The East, Oppenheimer menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban dunia.

Artinya nenek moyang bangsa-bangsa di dunia ini atau induk peradaban modern sekarang ini berasal dari Indonesia dan menyebar ke seluruh penjuru Bumi. Dalam teorinya, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan dulu menjadi satu kesatuan dengan sebutan Sundaland. Karena mengalami banjir berkali-kali akibat melelehnya es di Kutub, wilayah ini terpisah oleh lautan.

Dalam sebuah pertemuan di LIPI, Oppenheimer mengatakan teorinya dibangun berdasarkan kajian kedokteran (DNA), geologi, linguistik, antropologi, arkeologi, dan folklore. Ilmu-ilmu ini, terutama geologi, mengemukakan alasan adanya Sundaland yang dulu bersatu. Yang pertama dikemukakan adalah naiknya permukaan air laut sebanyak tiga kali di wilayah ini antara 14.500 hingga 7.200 tahun (sebelum Masehi), yang menenggelamkan Paparan Sunda (Sundaland).

Teori ini merupakan teori umum yang sering dikemukakan para geolog. “Agak sulit untuk melihat mengapa ada beberapa penentangan terhadap konsep ini, yang sebenarnya sudah diterima oleh para geolog dan para sarjana lainnya sejak lama,” katanya. Dari kajian genetika, Oppenheimer menjelaskan dari Paparan Sunda yang terpecah ini, menyebar kehidupan menyeberang laut.

Penyebaran bukan hanya dekat di wilayah ini, namun juga ke Samudera Pasifik dan Samudera Hindia hingga ke Euroasia. Dalam pandangan Oppenheimer, orang Sumeria peletak dasar peradaban di Mesopotamia berasal dari Asia Tenggara. Kesamaan benda-benda Neolitik sekitar 7.500 tahun lalu menjadi salah satu bukti. Ciri fisik orang Sumeria yang bermuka lebar dan wajah tipikal orientalis menjadi bukti lainnya.

Teori genetikanya menyebutkan 90 persen penduduk Paparan Sunda telah ada di sana sejak 5.000 hingga 50.000 tahun lalu, bahkan beberapa di antaranya sebelum zaman es mencair dan menenggelamkan wilayah ini. “Derajat keberlanjutan genetik itu membantah pandangan ortodoks bahwa para petani padi Taiwan berbahasa Austronesia secara esensial menggantikan penduduk terdahulu dari Paparan Sunda 3.500 tahun yang lalu,” katanya.

Menurut terori sebelumnya, Sundaland belajar pertanian, peternakan dan mencari ikan dari orang-orang Taiwan yang berbahasa Austronesia sekitar 3.500 tahun yang lalu. Padahal menurut Oppenheimer, sejak ribuan tahun sebelumnya mereka telah memiliki nilai-nilai neolitik.

Oppenheimer mengatakan mereka sejak ribuan tahun lalu telah memiliki keahlian sebagai nelayan. Dari kajian linguistik yang mempelajari bahasa asli dari Sundaland, yaitu bahasa Austronesia, istilah pelayaran berasal dari Asia Tenggara, bukan dari Taiwan. Endapan Rawa Menurut Eko Yulianto, ahli geologi LIPI, apa yang dikemukakan oleh Oppenheimer memiliki bukti yang kuat dari teori geologi. Pengeborannya yang dilakukan di Laut Jawa pada kedalaman 9,7 meter menemukan adanya endapan rawa.

Diperkirakan umur endapan ini 6.000 tahun yang lalu. Di laut sebelah selatan Pulau Jawa, ia menemukan adanya fosil serbuk sari yang merupakan sisa dari tanaman jenis rumput-rumputan (graminae). Ia menduga bisa jadi serbuk sari ini merupakan berasal dari padi atau tumbuhan sejenis. Lebih lanjut, ia mengatakan teori Sundaland benar adanya karena dari kedalaman laut di wilayah terlalu dangkal jika dibandingkan dengan kedalaman laut Sulawesi, Laut Banda, Laut Aru, dan lainnya.

Kedalaman lautan di bekas wilayah Sundaland ini hanya berkisar 10-30 meter. Di daratan, teori tentang manusia purba dengan peradabannya yang tinggi bisa ditemukan di Gua Pawon di Bandung. Dari penenyam perkakas dan bahan bakunya sangat beragam, mulai dari batuan obsidian yang hanya bisa ditemukan di Nagrek, Garut atau Sukabumi.

Serta gigi ikan hiu yang hanya bisa ditemukan di laut sekitar Subang. Ini artinya mobilitas penghuni Gua Pawon sudah tinggi dan peradabannya sudah sangat maju. Dibandingkan dengan teori Atlantis, menurut Eko, Eden In The East lebih ilmiah. ”Dibandingkan dengan yang ditulis Santos dalam Atlantis, apa yang dikemukakan Oppenheimer lebih masuk akal,” ujarnya. Pasalnya, selama ini Atlantis banyak menautkan teorinya dengan bukti mitologis, dan beberapa bukti yang kurang ilmiah lainnya.

Apalagi Santos belum pernah datang ke Indonesia dalam membangun teorinya dan lebih berdasarkan studi pustaka. Hary Harjono, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, mengatakan teori Oppenheimer, meski mendapat banyak dukungan, perlu pembuktian lebih lanjut. Dengan berbagai teknologi yang ada sekarang, bermacam hal yang dikemukakan Oppenheimer dapat dibuktikan.

“Dengan melacak DNA dan teknologi kelautan dan berbagai macam disiplin teori dalam Eden In The East dan Atlantis, dapat dibuktikan,” jelasnya. Menurut Jimly Asshiddiqie yang sejak lama sangat menginginkan buku Eden In The East diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, jika teori yang dibangun oleh Profesor Oppenheimer benar, hal ini akan membalikkan seluruh asal usul peradaban. “Sekarang orang Jepang tidak lagi menyebut dirinya saudara tua. Kita yang saudara tua,” pungkasnya.
hay/L-1

“EDEN IN THE EAST” MENDUKUNG” ATLANTIS”

Atlantis, benua yang hilang, hingga kini masih misterius. Meskipun manusia sudah mencari sisa-sisa keberadaan kota ini selama ratusan tahun dan lebih ribuan buku mengenai Atlantis diterbitkan, sayangnya, tidak ada satu pun yang bisa memastikan di mana letak Atlantis. Jika merujuk pada pendapat Plato yang memunculkan isu Atlantis, benua ini memiliki beberapa cirri-ciri. Atlantis negara makmur yang bermandi Matahari sepanjang waktu.

Plato juga menceritakan negara Atlantis yang kaya dengan bahan mineral serta memiliki sistem bercocok tanam yang sangat maju. Dasar mandi matahari berarti Atlantis dijadikan alasan bagi para ilmuwan benua ini berada di khatulistiwa. Buku paling anyar mengenai Atlantis yang ditulis oleh Arysio Nunes dos Santos, seorang ilmuwan Brasil, juga mengarah ke sana. Dalam bukunya, Atlantis, The Lost Continent Finally Found, Santos ingin menunjukkan bahwa Atlantis yang pernah disebutkan oleh Plato dalam buku Timaeus dan Critias berada di Indonesia yang bermandikan surya.

Ia mengatakan Atlantis benua yang hilang itu berada di wilayah Indonesia dan sebagian Malaysia yang dikenal dengan Paparan Sunda atau Sundaland. Santos, dalam kesimpulannya, mengatakan pilar Hercules sebagai Selat Sunda dan Taprobane sebagai benua Atlantis meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Pilar Hercules dan Taprobane adalah dua di antara ciri-ciri Atlantis yang hilang seperti diceritakan oleh Plato.

Dalam konteks Paparan Sunda, Taprobane digambarkan kaya dengan emas, batu mulia, dan berbagai macam binatang. Di sini pula terdapat kota langka tempat ibu kota Kerajaan Atlantis. Sejauh ini memang Atlantis masih misterius, baik letak maupun keberadaannya. Ada yang berpendapat benua yang hilang ini berada di Laut Tengah antara Libia dan Turki. Ada juga yang mengatakan Atlantis berada di dekat Portugal, yaitu Kepulauan Azores yang berada 1.500 km sebelah barat pantai Portugal.

Santos mengatakan Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan dari India bagian selatan, Sri Lanka, dan Paparan Sunda. Dalam keyakinannya, benua menghilang akibat letusan beberapa gunung berapi yang terjadi bersamaan pada akhir zaman es sekitar 11.600 tahun lalu. Gunung besar yang meletus zaman itu adalah Gunung Krakatau Purba.

Gunung ini merupakan induk dari Gunung Krakatau sekarang ini yang mampu menenggelamkan Atlantis. Gunung ini menimbulkan gempa, pencairan es, banjir, serta gelombang tsunami sangat besar. Akibat ledakan, terbentuklah Selat Sunda. Peristiwa itu juga mengakibatkan tenggelamnya sebagian permukaan Bumi yang dulu disebut Atlantis. Bencana mahadahsyat membuat punah 70 persen spesies mamalia yang hidup pada masa itu.

Bahkan ribuan manusia tewas dan sisanya berpencar dengan membawa peradaban mereka di wilayah baru. Santos menelusuri lokasi Atlantis berdasarkan pendekatan ilmu geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan mithologi meski ia tidak pernah datang ke Indonesia. Santos juga membangun teori berdasarkan linguistik dari bahasa Dravida yang menurut teorinya merupakan bahasa yang digunakan penduduk Atlantis berdasarkan temuan linguistik dan arkeologi.

Kini, dengan buku baru karangan Stephen Oppenheimer, Eden in The East, paparan Santos mendapat argumentasi kuat meski Oppenheimer tidak bertutur tentang Atlantis. Buku Eden in The East, berdasarkan isinya, tampak mendukung teori yang dikemukakan Santos yang menyebutkan Asia Tenggara sebagai pusat peradaban kuno dunia dan Atlantis yang hilang berada di Paparan Sunda lewat beberapa teori DNA, linguistik, etnografi , dan arkeologi.
hay/L-1

Minggu, 26 Desember 2010

Mereduki Toksin dengn Protein

Mereduksi Toksin dengan Protein
31 Okt 2008 13:21



--------------------------------------------------------------------------------

Petani di Indonesia kerap menggunakan pestisida untuk membasmi hama tanaman. Padahal, itu amat berbahaya bagi kesehatan. Untuk meminimalisasi racun yang terkandung dalam pestisida, dapat digunakan enzim.

Pestisida merupakan alat untuk mengontrol hama tanaman dan organisme yang tidak disukai atau merugikan tanaman pertanian. Namun, di balik keefektifannya, zat pembasmi ini mengandung toksin atau racun. Akumulasi residu atau endapan pestisida di lahan pertanian dapat mengakibatkan keracunan bagi konsumen produk pertanian. Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya residu kadar pestisida yang tinggi pada beberapa produk pertanian, seperti beras, sayuran, dan aneka buah-buahan.

Senyawa pestisida bersifat pulotan organik yang bandel atau persistence organic pollutant (POP). POP bersifat bioakumulatif, biomagnifikatif, dan biokonsentratif sehingga konsentrasinya dapat bertahan lama dalam suatu organisme bukan sasaran (nontarget), sangat membahayakan, misalnya pada manusia.

Residu pestisida pada lahan pertanian Indonesia diperkirakan kondisinya telah mencapai ambang yang membahayakan. Untuk itu, perlu dicarikan jalan keluar agar residu pestisida yang ada bisa terdegradasi.

Menurut Nina Hermayani Sadi, peneliti enzim dari Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogor, limbah pestisida yang banyak ditemui pada lahan pertanian dapat didegradasi kadar racunnya (toksid) dengan cara memanfaatkan biokatalis berupa enzim. Enzim yang dihasilkan dari mikroorganisme tersebut dapat mendegradasi racun pestisida pada lahan pertanian hingga kadarnya berkurang.

Menurut Mari Ulfah, Asisten Peneliti pada bagian Rekayasa Genetika Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), pada dasarnya enzim merupakan protein yang berfungsi menjadi katalis dalam proses biokimia. Dengan biokatalis dari enzim proses reaksi kimia menjadi lebih cepat dibandingkan dengan reaksi kimia biasa.

Ia mengatakan sifat enzim yang bekerja hanya pada substrat atau bahan dasar yang spesifik memberi peluang baru untuk memanfaatkannya dalam kehidupan manusia. Pada dasarnya, terdapat tiga jenis aplikasi enzimatis, yaitu untuk menghasilkan, mendeteksi, dan mendegradasi senyawa tertentu.

Amobilisasi

Nina menambahkan agar proses degradasi lebih murah, enzim tersebut harus dilakukan amobilisasi terlebih dahulu. Tujuan proses ini agar enzim bisa dipakai berulang kali sehingga tidak memboroskan biaya. ?Proses kimia dengan mempergunakan enzim saat ini memang masih mahal,? katanya.

Amobilisasi dapat mencegah terbukanya lipatan-pilatan protein enzim, dengan begitu aktivitas enzim dapat berkerja secara maksimal. ?Atau dengan kata lain dengan amobilitas enzim akan dapat meningkatkan kestabilan struktur enzim sehingga dapat bekerja berulang kali,? ujar Nina.
Lebih jauh ia mengatakan enzim amobil merupakan enzim yang dilokalisasi atau diikat dalam suatu bahan penyangga. Bahan penyangga bisa berupa papan atau membran tertentu untuk mempertahankan kemampuan aktivitas katalisnya, sehingga dapat dipergunakan berulang kali.

Saat ini, dikenal tiga macam metode amobilisasi enzim, yaitu dengan metode absorpsi, metode ikatan silang, dan metode penyerapan. Metode absorpsi merupakan metode yang sangat sederhana. Metode ini menggunakan permukaan padat untuk menyerap atau menempelkan enzim di atas permukaan dengan memanfaatkan bahan padat sebagai tempat menyerap enzim. Bahannya bisa berupa alumina, bentonit, anion selulosa, resin, kaca, dan lainnya.

Metode ikatan silang merupakan merupakan metode amobilisasi dengan memadukan metode absorpsi dan multifungsi pengikatan lain sehingga akan terbentuk ikatan silang yang lebih baik. Enzim kemudian terikat kuat sehingga tidak larut dalam air.

Sedangkan metode penjerapan atau entrapment, merupakan metode yang memanfaatkan perbedaan ukuran antara subtrat, produk, dan biokatalis. Biokatalis akan tertahan dalam sebuah ruangan matrik, sementara subtrat dan biokatalis dapat bergerak bebas. ?Secara sederhana metode penyerapan enzim dilakukan dengan mencampurkan enzim ke dalam bahan pelarut yang mudah dipadatkan,? katanya.

Nina memberi catatan, pemilihan bahan penyangga amobilisasi harus berdasarkan pada aktivitas biokatalis, yaitu struktur, aktivitas enzim, metode amobilisasi yang digunakan, dan kondisi proses amobilisasi.

Proses Degradasi

Proses digradasi limbah pestisida dengan memanfaatkan enzim tidak mudah. Satu hal yang perlu dicatat, kata Nina, dalam penanganan limbah pestisida secara enzimatis, sistem yang dikembangkan harus melalui tahap pengajian yang teliti sehingga tidak diperoleh hasil yang tidak diharapkan.

Nina mengatakan tidak semua jenis pestisida dapat dihidrolisis dengan menggunakan satu jenis biokatalis enzim. Namun, proses ini bergantung jenis pestisida, jenis mikroba, dan media pembiakan tempat berkembangnya bakteri tersebut sebelum dapat diigunakan. ?Harus ditentukan dulu jenis pestisidanya, jenis mikroba yang tumbuh pada lahan pertanian yang akan didegradasi dengan enzim,? katanya.

Untuk menentukan enzim penghidrolisis pestisida pada lahan pertanian, yang perlu dilakukan adalah dengan menentukan jenis mikroba. Untuk itu yang perlu dicari terlebih dahulu mikroba yang hidup pada lahan pertanian tersebut. Bakteri yang didapat, kemudian dibiakkan dalam media yang mengadung pestisida tertentu. Tujuannya supaya bakteri ini bisa tahan terhadap zat beracun ini. Dalam media ini mikroba kemudian menghasilkan enzim kasar yang akan dimurnikan dan selanjutnya diamobilisasi.

Untuk menghidrolisi jenis pestisida herbisida fenilkarbamat, misalnya, maka jenis yang digunakan adalah jenis enzim yang dihasilkan oleh mikroba dari genus Arthrobacter (Arthrobacter sp). Caranya dengan membiakkan mikroba ini dalam medium diklorofenosiastet terlebih dahulu. Setelah proses ini, enzim baru bisa dipakai untuk menghidrolisi herbisida jenis fenol terklorinasi.
Demikian juga untuk jenis pestisida fenil karbamat digunakan jenis mikroba dari jenis genus Peseudomonas. Mikroba ini dibiakkan dalam dalam herbisida fenilkarbamat dan akhirnya dapat digunakan untuk menghidrolisis beberapa pestisida golongan fenil seperti karbamat dan asilanilida.
Setelah enzim ini jadi maka bisa digunakan dalam lahan pertanian. Bila berbentuk pelet enzim bisa ditaburkan di atas lahan pertanian. Tapi bila berbentuk cair maka enzim dapat dicampurkan di dalam larutan penyaring, untuk menghidrolisis air yang mengandung pestisida pada lahan pertanian yang bersama dengan proses penyaringan air
Ezim mempunyai keunggulan dalam mendegradasi pestisida, karena biokatalis ini bisa digunakan dalam suhu ruang dan pH netral. Reaksi enzimatis tidak memerlukan bahan kimia konvensional sehingga ramah lingkungan. Bahan kimia biasa untuk mendegradasi kadang berbahaya karena menghasilkan efek samping.

Keuntungan lain reaksi enzimatis, pada saat degradasi tidak terpengaruh oleh toksisitas limbah yang ada dibanding dengan cara biologis menggunakan tanaman air. Enzim juga mampu menghasilkan reaksi yang bersih yang tidak berefek samping lantaran memunyai kekhususan pada struktur molekul pembentuknya. (hay/L-4)

Ditulis Oleh Haryo Brono/Koran Jakarta

Senin, 20 Desember 2010

Menguak Fenomena Pembelokan Kali Opak


Menguak Fenomena Pembelokan Kali Opak


Sabtu, 18 Desember 2010

Pembentukan gurun pasir, pergeseran lempeng tektonik, meletusnya gunung berapi, dan tsunami merupakan contoh-contoh fenomena geologi yang selalu menarik untuk dikaji. Peristiwa-peristiwa alam itu pun telah banyak diteliti dan dianalisis oleh para ahli. Namun, dari sekian banyak fenomena alam yang terjadi, ada satu fenomena yang luput dari kajian para ahli, yakni pembelokan muara Sungai Opak.

Sebenarnya, peristiwa berbeloknya air Kali Opak, Yogyakarta ketika hendak bermuara ke Samudra Hindia terbilang unik. Pasalnya, apabila dibandingkan dengan “sifat” aliran air dari muara sungai pada umumnya, peristiwa yang terjadi di Kali Opak bisa dikatakan sebagai anomali. Biasanya, ketika sungai bermuara ke pantai memiliki persimpangan tegak lurus dengan bibir pantai. Sedimentasi atau endapan yang dihasilkan dari peristiwa itu tidak akan menimbulkan pembelokan, tetapi hanya memunculkan delta-delta.

Seperti diketahui, muara sungai merupakan tempat bertemunya arus pasang surut air laut dengan air sungai yang saling berlawanan. Kondisi itu akan memberi pengaruh kuat pada proses sedimentasi. Pada kasus Kali Opak, sedimentasi material tersebut mengakibatkan terjadinya pembelokan aliran air ke arah barat atau kanan. Fenomena tersebut bisa diketahui dari hasil rekaman citra satelit. Fenomena yang sama tampak pula di Kali Progo di Kulon Progo, Kali Bogowonto di Purworejo, dan Kali Serayu di Cilacap yang berada di bagian selatan Pulau Jawa dan berhadapan dengan Samudra Hindia.

Peristiwa pembelokan muara sungai itu telah menarik perhatian dua peneliti muda, Yan Restu Freski dan Darmadi dari Taman Pintar Science Club, Yogyakarta. Kedua finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2010 itu kemudian mengaji penyebab terjadinya fenomena alam tersebut. Rasa penasaran kedua peneliti muda itu semakin tinggi manakala melihat sungai di timur Bantul, Yogyakarta yang juga berhadapan dengan Samudra Hindia tidak mengalami pembelokan.

Demikian pula halnya dengan sungaisungai yang berada di bagian barat Cilacap, Jawa Tengah. “Pembelokan hanya terjadi antara wilayah Bantul sampai Cilacap,” kata Yan. Yan dan Darmadi lantas meneliti fenomena pembelokan sungai itu dengan berlandaskan teori terjadinya pembelokan menandakan adanya gangguan pada sistem aliran air. Mereka pun mengaji faktor-faktor yang kemungkinan terlibat dalam pertemuan antara arus sungai dan laut.

Beberapa faktor itu antara lain angin, pantai, gelombang, muara sungai, musim, dan arus sungai. Baik Yan maupun Darmadi menduga faktor-faktor ter sebut menjadi penyebab berbeloknya aliran Sungai Opak. Yan yang masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Teknik Geo logi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan Darmadi, mahasiswa Fakultas Ilmu Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), melanjutkan penelitian mereka dengan melakukan studi lapangan.

Tujuan studi lapangan itu untuk mengamati kondisi geomorfologi, sampel sedimen, dan proses sedimentasi. Pengamatan sampel sedimen dilakukan dengan metode granulometri, yaitu metode untuk menganalisis ukuran butir-butir sedi men. Yan mengatakan butir-butir sedimen berperan dalam proses pembentukan sedimen dan deposisi sedimen. Berdasarkan kajian di lapangan yang disajikan dengan cara deskriptif analitis, diketahui mereka berhasil menemukan faktor yang menjadikan arus Su ngai Opak berbelok ke arah barat daya.

Pengaruh Angin

Salah satu faktor penyebab pembelokan itu adalah arah angin yang dominan bertiup dari arah tenggara dan menyudut menghantam muara kali. “Pada Desember hingga Februari angin itu mulai menurun. Bahkan, pada Maret angin bertiup dari arah barat ke tenggara,” papar Yan. Angin yang bertiup lebih kuat dikatakan sangat memengaruhi pembelokan aliran sungai karena angin itu mendorong gelombang laut (swash).

Gelombang laut yang menyudut dengan bibir pantai dan muara yang membujur dari tenggara ke barat menimbulkan longshore drift atau gerakan zig-zag sedimen di sepanjang pantai. Pada kasus Kali Opak gerakan zig-zag yang terjadi dari arah tenggara dan barat laut serta dari arah barat laut menghasilkan sedimen yang memanjang dari timur ke barat.

Adapun gerakan zig-zag yang berasal dari tenggara menghasilkan sedimen lebih banyak dibandingkan dengan gerakan zig-zag yang berasal dari arah barat. Hal itu disebabkan gerakan zig-zag di bagian tenggara lebih lama dibandingkan gerakan zig-zag di bagian arah barat. Di bagian tenggara, gerakan tersebut terjadi sejak April hingga November dan didukung pula oleh suplai sedimen yang kontinu di muara Kali Opak.

“Sementara longshore drift dari barat hanya terjadi selama dua bulan, dari Januasi hingga Maret dan tidak banyak berpengaruh dalam mengembalikan arus muara Sungai Opak,” ujar Yan yang pernah memenangi Lomba Penelitian Remaja (LPIR) Kementerian Pendidikan Nasional. Adanya sedimen dari arah pantai yang dihasilkan oleh gera kan zig-zag itu menyebabkan tidak terjadinya proses sedimentasi di Sungai Opak.

Arus air sungai yang membawa sedimen dari daratan terhalang oleh sedimen dan berbelok ke kanan. Pembelokan itu membuat posisi muara Kali Opak menjadi miring dengan bibir pantai. Sedimen dari arah pantai yang dihasilkan longshore drift kemudian terakumulasi bersama dengan endapan dari Sungai opak. Hal itu dibuktikan Yan melalui metode granulometri sampel sedimen pada titik sedimen antara bibir pantai dan Sungai Opak yang berbelok. Sampel sedimen Sungai Opak memiliki komposisi pasir dan kerikil dalam ukuran yang tidak seragam dengan warna terang.

Sementara, sedimen yang berada di bibir pantai berupa pasir gelap dengan butiran halus berukuran sama. Lebih jauh Yan menjelaskan butiran sedimen juga memengaruhi terjadinya pembelokan muara kali. Di Kali Opak, Kali Progo, Kali Bogowonto, dan Kali Serayu terjadi pembelokan karena sedimensedimennya bertekstur lembut.

Sementara di sungai yang berada di wilayah Gunung Kidul, Yogyakarta, tidak terjadi pembelokan karena sedimennya berupa batuan kapur berukuran besar. Yan menambahkan pembelokan pada Kali Opak bukan pula disebabkan oleh adanya arus yang kuat. Pasalnya, arus yang ada tidak cukup kuat untuk bergerak lurus ke pantai sebagai akibat dari landainya kontur daratan di wilayah itu.
hay/L-2
Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta

Rabu, 15 Desember 2010

Helm Lebih Kuat dengan Pola Jaring Laba-laba


Rabu, 24 Nopember 2010


Bagi masyarakat Indonesia, terutama kalangan menengah ke bawah, sepeda motor merupakan wahana transportasi andalan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Banyak orang beranggapan dengan mengendarai sepeda motor pengeluaran bisa lebih dihemat ketimbang menggunakan kendaraan umum.

Selain karena alasan penghematan, maraknya sepeda motor di jalan-jalan juga dikarenakan semakin banyaknya tawaran kredit kepemilikan kendaraan roda dua tersebut. Bahkan, masyarakat dimanjakan dengan fasilitas cicilan kredit yang ringan. Karenanya, tidak heran jika pertumbuhan sepeda motor terus meningkat dari tahun ke tahun.

Seiring pertambahan sepeda motor yang lalu lalang di jalan raya, risiko kecelakaan lalu lintas pun semakin tinggi. Badan Kesehatan Dunia PBB (World Health Organization/ WHO) mencatat jumlah korban yang meninggal akibat kecelakaan sepeda motor di dunia mencapai 1,2 juta orang per tahun. Dari hasil analisis diketahui kebanyakan korban yang meninggal mengalami luka di kepala.

Selain mengakibatkan kematian, kecelakaan tersebut juga kerap menyebabkan korban mengalami cacat tubuh. Khusus di Indonesia, angka kecelakaan sepeda motor setiap tahunnya mengalami peningkatan. Mengacu data, setidaknya pada 2009 terjadi 6.608 kasus kecelakaan.

Dari jumlah total korban, sekitar 88 persen korban mengalami luka di kepala dan mengakibatkan kematian serta cacat fisik. Dengan merujuk kondisi tersebut, pemerintah melalui SK Menteri Per industrian Nomor 40/M-IND/ Per/6/2008 mewajibkan pembuatan helm ber-Standar Nasional Indonesia (SNI). Begitu pula halnya dengan pengendara kendaraan roda dua, wajib memakai helm bertanda SNI.

Persyaratan itu di mak sudkan demi meningkatkan ke amanan dan keselamatan dalam ber kendara bagi pengendara motor. Berdasarkan alasan keamanan dan keselamatan itu pula, dua peneliti muda, Irene Giarto dan Jessica Cleine, tertarik untuk membuat helm dengan bahan yang kuat. Setelah melakukan beberapa riset, kedua finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) tahun 2010 itu akhirnya membuat helm dari serat berpola jaring laba-laba.

Helm yang kuat dan memenuhi standar keamanan mesti memenuhi beberapa ketentuan, di antaranya memiliki daya serap terhadap daya kejut dan penetrasi yang baik, memiliki tingkat keefektifan sistem penahan yang tinggi, memiliki sistem penahan dengan tali pemegang yang kuat, lolos uji ketahanan tali dari pergeseran dan keausan, lolos uji dampak miring, memiliki pelindung dagu, serta lolos uji ketahanan material dari panas.

Irene dan Jessica, keduanya masih tercatat sebagai pelajar kelas II SMA Santa Laurensia, Serpong, Tangerang, Banten, itu kemudian mencoba menemukan materi yang kuat tetapi ringan dari bahan alami untuk membentuk struktur komposit. Keduanya juga berupaya untuk memanfaatkan serat alami sebagai bahan dasar helm. Pertimbangan mereka, berdasarkan aturan, bahan helm hendaknya tidak terbuat dari logam.

Selain itu, helm juga harus dapat ditempatkan di ruang terbuka dengan suhu 55 derajat celcius, tidak terpengaruh oleh radiasi sinar ultraviolet, tidak boleh lapuk, dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit. Untuk bahan helm, Irene dan Jessica memilih menggunakan resin. Resin merupakan bahan yang berwujud kental sepertim lem dengan warna bening atau hitam.

Bahan yang dipakai campuran antara resin epoxy dan resin herdaner sebagai penguat. Namun yang menjadi masalah, untuk memperkuat campuran resin itu harus dikombinasikan dengan serat sebagai kerangka helm, seperti halnya pada beton bertulang. “Struktur akan menambah kekuatan bahan komposit ketika menjadi helm nantinya,” ujar Irene.

Dia menjelaskan ada tiga pilihan pola anyaman yang dipakai sebagai bahan struktur untuk helm, yaitu anyaman bakul, anyaman tikar, dan anyaman berbentuk jaring laba-laba. Pola anyaman bakul terbukti kuat dipakai sebagai wadah untuk beberapa bahan pertanian. Sementara pola anyaman tikar selang-seling juga kuat dipakai untuk tikar sebagai alas tidur dan kasur.

Adapun pola anyaman jaring laba-laba, kekuatannya masih belum banyak diuji. Serat Tumbuhan Serat untuk bahan helm diambil dari tumbuhan sisal (Agave sisalana), yaitu sejenis tanaman nanas. Tanaman tersebut memiliki serat kuat pada daunnya yang panjang dan berduri. Serat sisal memiliki warna krem cenderung putih.

Apabila diraba, serat itu sedikit kaku ketimbang serat lainnya. Serat sisal memiliki keunggulan dari sisi kekuatan dan tahan terhadap air laut sehingga cocok digunakan sebagai tali. Kedua peneliti remaja itu kemudian membuat komposisi antara resin dan pola anyaman di dalamnya.

Caranya, pertama, resin dimasukkan ke dalam cetakan berukuran 15 X 15 sentimeter dengan ketebalan 5 milimeter. Selanjutnya, campuran resin dan resin hardener dimasukkan bersamaan, kemudian serat digelar di atas resin. Proses berikutnya, resin penutup dituangkan di atasnya. “Campuran ditekan dengan kekuatan tangan saja agar memadat.

Campuran akan memadat dan kering setelah 4 sampai 5 jam. Pada saat itulah bahan komposit dinyatakan jadi,” terang Jessica. Untuk mengatahui kekuatan bahan komposit itu, Irene dan Jessica mencoba melakukan pengujian dengan menggunakan peluru pejal.

Mereka menguji 25 pola, setiap pola terdiri dari 5 sampel uji dengan peluru pejal yang dijatuhkan dari ketinggian sekitar 1 meter. Langkah itu dilakukan untuk mengetahui tingkat penetrasi area kerusakan. Berat peluru pejal pada beban awal sebesar 1,33 kilogram. Berat itu terus ditambah sebesar 100 gram setiap kali pengujian.

Jadi, hingga 10 kali pengujian, berat peluru pejal bisa mencapai 2,33 kilogram. Pada beban seberat itu, papan komposit mengalami beberapa kerusakan. Hasil uji coba penyerapan energi potensial yang diterima atau diserap papan komposit dengan pola anyaman tikar memiliki kekuatan rata-rata 9 joule. Jenis anyaman bakul memiliki kekuatan penyerapan 15 joule, dan pola anyaman jaring laba-laba berkekuatan 15 joule.

Berdasarkan hasil uji coba pula diketahui kerusakan pada pola anyaman tikar mencapai 0,0035 meter persegi. Sementara pada pola bakul kerusakannya mencapai 0,0025 meter persegi dan pola jaring laba-laba hanya 0,001 meter persegi. Grafik tingkat penetrasi penetrasi rata-rata dari papan komposit pola anyaman tikar 0,035 meter, pola anyaman bakul 0,045 meter, dan pola anyaman sarang laba-laba 0,030 meter.

Dari hasil uji kekuatan itu Irene menyimpulkan ternyata pola anyaman sarang laba-laba memiliki kekuatan lebih bagus ketimbang pola tikar dan bakul. Bukan hanya itu, penyerapan energi potensial dari benturan juga lebih baik. Tingkat penetrasi papan pejal terhadap bahan berpola anyaman sarang labalaba pun diketahui paling kecil.

Namun demikian, baik Irene maupun Jessica, belum puas dengan hasil tersebut karena alat uji yang mereka gunakan masih sederhana. Oleh karena itu, keduanya berencana untuk melakukan uji coba dengan alat yang lebih bagus untuk mengetahui seberapa jauh tingkat kerusakan bahan.

Setelah proses uji coba yang lebih akurat dilakukan, Irene dan Jessica merekomendasikan agar pola anyaman sarang laba- laba dibuat menjadi serat dalam pembuatan helm.
hay/L-2
Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta

Mengurangi Emisi Kendaraan dengan Kotak Pembersih Sederhana

   

  




Senin, 13 Desember 2010


Gas buang dari hasil pembakaran kendaraan bermotor merupakan faktor penyebab polusi yang paling dominan, terutama di kotakota besar. Hal itu dikarenakan penggunaan kendaraan bermotor di kota-kota besar jauh lebih besar dibandingkan dengan perdesaan. Lazim diketahui pertambahan jumlah kendaraan bermotor akan berpengaruh signifikan terhadap kadar gas buang atau emisi yang dihasilkan dari bahan bakar yang digunakan oleh kendaraan-kendaraan tersebut. Setiap kendaraan bermotor umumnya menghasilkan gas sulfur dioksida (SO2), nitrogenoksida (N2O), nitrogenmonoksida (NO), karbondioksida (CO2), karbonmonoksida (CO), hidrokarbon (HC), dan timbal (Pb) dalam jumlah yang bisa dikatakan tidak sedikit.

Gas-gas itu tergolong sebagai gas emisi yang berdampak buruk bagi lingkungan serta mengganggu kesehatan manusia. Apabila gas-gas sisa hasil pembakaran kendaraan bermotor itu terhirup pernapasan, manusia pun akan mengalami pusing, mata pedih, gangguan reproduksi pada pria dan gangguan pada paruparu. Selain itu emisi juga dapat menyebabkan penurunan kecerdasan pada anak dan penyakit infeksi saluran pernapasan atas. Dampak buruk gas buang terhadap kesehatan itu menimbulkan keprihatinan dalam diri Muhammad Imam Muhtar Sidik dan Agustina Slamet.

Kedua pelajar SMKN 2 Depok, Sleman, Yogyakarta itu pun tergerak untuk berinovasi membuat alat sederhana penyerap emisi. Pada prinsipnya, alat tersebut dibuat untuk mengurangi kadar gas buang pada saat kendaraan berhenti atau statis. Sebagai contoh, kendaraan tengah diperbaiki di bengkel dan mesin kendaraan tengah diuji coba oleh montir. Hal yang menjadi persoalan, ketika mesin motor diuji coba, asap kendaraan akan berputarputar di sekitar lokasi uji coba atau bengkel.

Menurut Imam kondisi tersebut sangatlah berbahaya mengingat sangat tingginya kadar polutan yang terkandung dalam asap hasil pembakaran kendaraan tersebut. Bisa dibayangkan, seorang mon tir yang sehari-harinya bekerja di bengkel dan berhadapan dengan banyak kendaraan bermotor akan terpapar emisi, salah satunya emisi karbon dalam jumlah besar. Oleh karena itu, kata Imam, dia bersama Agustina mencoba mengembangkan alat pengurang emisi yang dapat diaplikasikan di bengkel-bengkel.

Imam mengklaim, pengaplikasian perangkat pengurang emisi hasil kreasi dirinya dengan rekannya itu akan mendatangkan beberapa manfaat, di antaranya dapat mengurangi efek pemanasan global, mewujudkan bengkel ramah lingkungan, melindungi montir, khususnya dan masyarakat pada umumnya dari bahaya gas buang. Alat yang diberi nama “kotak pembersih emisi” itu bekerja berdasarkan prinsip penyerapan, yaitu proses yang terjadi ketika suatu fluida, cairan, maupun gas terikat pada suatu zat penyerap.

Imam dan Agustina pun lantas memilih bahan penyerap berupa oli bekas, arang aktif, dan zeolit untuk mengikat emisi. Bahan-bahan itu dimasukkan ke dalam tiga kotak tertutup yang berbeda-beda.

Tiga Fase

Proses penyaringan gas buang dilakukan dalam tiga fase. Fase pertama, gas buang dari knalpot kendaraan bermotor disalurkan ke dalam tabung pertama yang berisi oli bekas. Proses itu dibantu dengan kipas yang diletakkan sebelum tabung. Tujuannya, untuk memperlancar proses penyaluran emisi ke dalam tabung berisi oli.

“Emisi akan turun ke oli dengan bantuan gravitasi gas buang,” jelas Agustina. Lebih jauh siswi kelas 12 jurusan Mesin itu menerangkan pada fase pertama tersebut oli bekas akan menyerap timbal yang merupakan gas hasil pembakaran kendaraan bermotor. Selanjutnya, pada fase kedua gas buang akan masuk ke dalam kotak tertutup berisi arang aktif dari batok kelapa. Arang aktif pun akan menjerap sulfurdioksida, nitrogenoksida, nitrogenmonoksida, karbondioksida, karbonmonoksida, dan hidrokarbon.

Arang aktif dikenal berdaya serap tinggi karena memiliki permukaan yang luas. Satu gram arang aktif memiliki permukaan seluas 500 meter persegi. Jadi, pengisian tabung dengan beberapa kilogram arang aktif dinilai mampu menyerap senyawa-senyawa penyebab polusi yang terkandung di dalam bahan bakar kendaraan bermotor. Selain kotak berisi oli bekas dan arang aktif, ada pula kotak yang berisi batuan zeolit.

Zeolit merupakan batuan yang memiliki pori-pori berukuran kecil sehingga dapat memisahkan atau menyaring molekul. Pada proses itu zeolit akan mengikat arang aktif yang terbawa bersama dengan emisi ketika masuk pada tabung kedua. Batuan itu juga dapat mengikat arang aktif karena sifatnya yang mudah melepas kation atau ion bermuatan positif dan diganti dengan kation lain. Sebagai contoh, melepas natrium kemudian ion tersebut diganti oleh kalsium.

Berdasarkan hasil uji coba perangkat pengurang emisi yang diaplikasikan pada motor Honda Su pra X 125, diketahui terjadi penururan kadar emisi secara signi fi kan. Ketika motor tidak dilengkapi alat penyaring emisi, kadar gas karbonmonoksida mencapai 3,29 persen dan kadar gas karbondioksida men capai 2,16 persen. Adapun kadar hidrokarbonnya mencapai 3033 part per million (ppm) dan tidak ada kandungan air.

Sementara itu, motor yang telah dilengkapi kotak pembersih emisi menghasilkan 0,68 persen karbonmonoksida, 0,43 persen karbondioksida, hidrokarbon sebesar 671 ppm, dan air sebanyak 19,64 persen. Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan uji coba pada motor Honda Vario keluaran tahun 2008 dan Yamaha Fiz R. Dari penelitian yang dilakukan kedua inovator remaja itu diperoleh kesimpulan, pada Honda Supra X 125 terjadi penurunan emisi karbonmonoksida hingga 79,3 persen, karbondioksida 83,52 persen, dan hidrokarbon sebanyak 77,88 persen.

Sementara Honda Vario 2008 mengalami penurunan karbonmo noksida sebesar 76,9 persen, karbondioksida 62,9 persen, dan hidrokarbon 51,23 persen. Pada Yamaha Fiz R, penurunan karbonmonoksida mencapai 41,2 persen, karbondioksida 41,28 persen, dan hidrokarbon sebesar 44,89 persen. “Kemampuan kotak pembersih emisi dalam menyerap gas-gas buang, semisal karbondioksida terbilang cukup baik.

Hal itu bisa dibandingkan dengan mengacu pada standar emisi karbondioksida yang diperbolehkan ialah 2,50 persen,” kata Imam. Finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu menambahkan, secara ekonomi pembuatan satu kotak pembersih emisi yang dapat menampung lima knalpot sekaligus itu terbilang murah, hanya 129 ribu rupiah. Biaya yang relatif murah tersebut dikarenakan semua bahan untuk membuat perangkat berasal dari barang-barang bekas.
hay/L-2
Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta

Mengadang Kanker Payudara dengan Ciplukan

  
 Rabu, 15 Desember 2010
Bagi kaum hawa, kanker payudara merupakan momok yang sangat menakutkan. Betapa tidak, penyakit itu sering kali datang secara tiba-tiba dan tidak diketahui sebelumnya. Tidak sedikit kaum perempuan yang tiba-tiba divonis menderita kanker payudara stadium lanjut, padahal sebelumnya mereka tidak merasakan tanda-tanda “aneh” pada organ payudara. Ironisnya, jumlah penderita kanker payudara cenderung meningkat dari tahun-tahun. Di Indonesia, kaum perempuan yang menderita penyakit itu terbilang banyak, bahkan jumlahnya menduduki posisi kedua setelah penderita kanker leher rahim.

Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS), diketahui pada 2007 tercatat 8.227 kasus kanker payudara. Angka tersebut lebih besar ketimbang tahun sebelumnya yang hanya 5.786 kasus. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa angka penyebaran penyakit itu masih tinggi. Salah satu penyebab tingginya tingkat penyebaran kanker payudara adalah belum ditemukannya obat untuk mencegah penyakit tersebut.

Selama ini, obat-obatan yang ada fungsinya bukan preventif, melainkan mengobati penyakit yang telanjur diderita pasien. Sebagai contoh, untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker penderita mesti menjalani kemoterapi. Kondisi itulah yang lantas mendorong Ameilinda Monikawati, mahasiswi jurusan Farmasi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yog yakarta, untuk mencari obat pen cegah kanker payudara. Dia berharap obat tersebut nantinya dapat “membentengi” para perempuan dari ancaman penyakit mematikan itu.

Menurut Ameilinda, obat pencegah kanker payudara tersebut bisa berupa agen kemopreventif. “Agen itu bermanfaat untuk mengurangi risiko kanker sekaligus sebagai terapi kombinasi dalam pengobatan kanker,” ujar dia. Selama ini, metode penyembuhan kanker payudara yang umum dilakukan adalah kemoterapi. Sayangnya, metode tersebut masih menyisakan beberapa persoalan.

Agen kemoterapi doxorubicin sebagai satu-satunya agen penyembuh ternyata menimbulkan efek samping terhadap pasien, seperti mual, muntah, serta adanya toksisitas pada jaringan normal dan jantung. Selain itu, doxorubicin juga menekan sistem imun dan resistensi pada sel kanker itu sendiri. Melihat persoalan tersebut, Amel, begitu peneliti muda itu biasa dipanggil, beranggapan diperlukan agen ko kemoterapi bagi pasien yang menjalani proses kemoterapi. Agen tersebut akan berperan meningkatkan efikasi dan menurunkan toksisitas pada tubuh pasien.

Peningkatan efikasi dan penurunan toksisitas tersebut dapat pula mencegah penyebaran sel dan memicu apoptosis, yakni proses pembuangan sel yang tidak diperlukan oleh tubuh secara alami. Dalam memilih agen pencegah kanker payudara tersebut memang diperlukan penelitian yang intensif. Berdasarkan beberapa hasil penelitian diketahui bahwa sejumlah tanaman memiliki senyawa-senyawa yang berpotensi mencegah kanker.

Salah satu jenis tanaman yang dianggap mujarab sebagai agen tersebut ialah ciplukan (Physalis angulata L). Ciplukan diketahui memiliki efek sitotoksik atau mampu menghambat pertumbuhan sel-sel kanker. Menghambat Penyebaran Tanaman tersebut juga memiliki efek antipoliferasi atau penyebaran sel-sel kanker, memicu pertumbuhan sel G2/M arrest, mendorong terjadinya apoptosis pada sel kanker payudara MDA-MB231, serta memiliki efek antihepatoma sel hati manusia seperti Hep G2, Hep 3B, dan PCL/PRF/5.

Amel yang juga anggota Cancer Chemoprevention Research Center (CCRC) Farmasi, UGM, itu menuturkan ciplukan mampu mengatasi kanker karena mengandung fi salin B dan D. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya diketahui fisalin B dan F yang diisolasi dari herba ciplukan dapat menghambat pertumbuhan beberapa sel leukemia atau kanker darah. Cairan kloroform pada ciplukan selama ini terbukti pula mampu menghambat sel ade nokarsinoma paru-paru NCIH23.

Untuk memastikan ciplukan dapat dipakai sebagai fitofarma-ka atau tanaman obat pencegah dan pengobat kanker payu dara, Amel melakukan serangkaian penelitian. Dia menguji aktivitas sitotoksik ekstra etanolik herba ciplukan (EHC) pada sel kanker payudara secara in vivo dan in vitro. Secara in vivo Amel meneliti sel kanker payudara yang ada pada tubuh tikus betina sprague dawley yang dinduksikan dengan 7,12 dimetilbenz[a]antrasena (DMBA). Sementara itu, pada in vitro, dia menggunakan sel kanker payudara MCF-7 dan T47D koleksi dari CCRC.

Adapun sel tersebut berasal dari Nara Institute of Science and Technology, Jepang. Uji in vitro dilakukan dengan menginduksi kanker payudara MCF-7 dan T47D yang ditumbuhkan di dalam media kultur. Sel itu lalu diinkubasi dengan EHC selama 24 jam dengan metode MTT Assay. Dari hasil pengamatan setelah tahap uji coba diketahui terjadi reaksi sel kanker dengan EHC. Selain itu, terjadi pula ektivitas sitotoksik dari EHC terhadap sel kanker payudara MCF-7 dan T47D.

Pada saat dosis konsentrasi EHC ditingkatkan, terjadi kematian sel yang semakin tinggi atau mencapai angka 20 persen karena apoptosis. Efek apoptosis ditandai dengan adanya perubahan morfologi sel, kondensasi kromatin, dan fragmentasi nukleus. Untuk menandai kematian sel dilakukan pengecatan, yaitu permeasi oleh akridin oranye pada sitoplasma. Dengan cara itu sel kanker yang hidup akan tampak hijau dengan inti sel utuh dan sel yang mati akan berwarna merah.

Pada kelompok kontrol tidak terlihat adanya aktivitas apoptosis yang ditunjukkan dengan inti sel yang utuh dan berfluoresensi hijau. Hasil pengecatan itu membuktikan EHC mampu menginduksi apoptosis pada sel kanker payudara MCF-7 karena hasil pengecatan menunjukkan adanya warna merah pada sel. Pada kondisi normal sel kanker memiliki struktur berbentuk daun, namun ketika sel mengalami kematian bentuknya berubah menjadi bulat dan semakin kabur.

“Sel yang tampak lebih bulat dan mengapung menandakan sel tersebut mati,” jelas Amel. Demi mendapatkan hasil yang lebih meyakinkan, Amel yang melakukan penelitian bersama-sama dengan dua rekannya di jurusan Farmasi, Sofa Farida dan Inna Armandari, menguji coba secara in vivo pada tikus. Pada kelompok tikus yang mendapat perlakuan EHC dengan konsentrasi 100 μg/mL terlihat adanya aktivitas apoptosis. Hal itu ditandai dengan perubahan warna inti sel dari hijau ke jingga dengan kromatin terfragmentasi atau terkondensasi.

Sementara itu, pada kelompok kontrol tidak terlihat adanya aktivitas apoptosis yang ditunjukkan dengan inti sel yang utuh dan berfl uoresensi hijau. Hasil pengecatan Hematoslin dan Eosin itu membuktikan bahwa EHC mampu menginduksi apoptosis pada sel kanker payudara MCF-7 dan T47D. “Pemberian EHC pada sel MCF-7 dan T47D menunjukkan adanya fenomena dose dependent, persentase sel yang hidup semakin menurun seiring dengan peningkatan dosis,” pungkas Amel.

Atas hasil penelitiannya itu Amel pun berhak menyandang gelar sebagai juara I lomba Kompetisi Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) ke-9 2010 yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
hay/L-2
Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta