Rabu, 17 November 2010

Sistem Peringatan Dini Penyakit Berbasis Berita



Jumat, 04 Juni 2010
Mengantisipasi penyebaran penyakit dalam waktu singkat dapat dilakukan dengan menerapkan sistem peringatan dini. Sistem itu bekerja dengan memanfaatkan basis data dari berbagai situs di Internet.

Penyakit menular merupakan salah satu jenis penyakit yang kerap menjadi momok bagi masyarakat.

Tidak jarang pula wabah tersebut memakan korban jiwa dalam jumlah besar. Apabila kondisinya telah mencapai taraf tersebut, biasanya pemerintah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB).

Hal itu tentu akan sangat meresahkan masyarakat.

Salah satu contoh kasus KLB yang pernah terjadi ialah penyebaran wabah flu burung di beberapa negara di dunia.

Penyakit yang ditularkan melalui unggas itu telah menyebabkan ratusan orang meninggal dunia.

Di Indonesia, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, selama periode 2003 hingga 2008 jumlah korban yang meninggal dunia akibat flu burung mencapai 107 orang.

“Indonesia menurut jurnal Nature merupakan salah satu hotspot dunia flu burung.

Penyebarannya sangat luas dan kerap penyakit itu menimbulkan banyak korban jiwa,” ujar Anto Satriyo Nugroho, peneliti dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Selain penyakit flu burung, penyakit menular yang pernah menjadi wabah dan menyebabkan kematian ialah demam berdarah.

Penyakit itu disebabkan oleh virus dari famili Flaviviridae, genus Flavivirus, dan menyebar melalui perantara nyamuk Aedes aegypti.

Untuk mengatasi penyebaran pe nyakit-penyakit menular tersebut, beberapa langkah antisipasi mesti ditempuh.

Upaya pencegahan flu burung, misalnya, bisa dilakukan dengan cara mengendalikan penyakit pada hewan, penatalaksanaan kasus-kasus pada manusia, perlindungan pada kelompok berisiko tinggi, menjalankan komunikasi risiko, melakukan edukasi, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat.

Selain itu, perlu dilakukan penguatan dukungan peraturan dan penelitian kajian, pemonitoran, dan evaluasi terhadap penyakit menular semacam itu.

Pasalnya, penyakit menular dengan media perantara hewan itu apabila dibiar kan dapat berkembang dan menular dari manusia ke manusia.

Penyakit flu burung jika dibiarkan bisa mengakibatkan pandemi influenza yang sangat mengerikan.

Oleh karena itu, sebagai langkah awal antisipasi penyebaran penyakit menular, diperlukan ketersediaan informasi akan adanya wabah dan penyebaran penyakit sedari dini.

Informasi itu bisa membantu pihak-pihak yang memiliki otoritas serta masyarakat bertindak cepat dalam mengantisipasi kondisi yang lebi parah.

“Tujuannya, sebagai early warning system (sistem peringatan dini),” katanya.

Sistem informasi memang merupakan kunci untuk menentukan atau memperkirakan besaran masalah dan luasnya daerah penyebaran.

Dari data-data tersebut, maka tindakan pencegahan dan pengobatan penyakit pun bisa diproyeksikan sejak awal.

Sayangnya, informasi awal itu sering kali tidak dimiliki oleh Kementerian Kesehatan atau Dinas Kesehatan.

Institusi-institusi pemerintah itu hanya mengetahui informasi yang berkaitan dengan penyebaran penyakit melalui pemberitaan media.

Lokasi serta jumlah penderitanya pun kerap tidak bisa diketahui dalam waktu singkat.

Padahal, penyakit menyebar begitu cepat dan membutuhkan penanganan yang juga cepat.

Anto mengatakan untuk mengatasi hambatan tersebut, informasi awal sebagai peringatan dini dapat diperoleh melalui berita di Internet dan mengolahnya dengan perangkat lunak Sistem Analisa Spatio Temporal Penyebaran Penyakit Menular (SASTPPM).

Dwi Handoko, Kepala Bidang Sistem Informasi dan Komputasi BPPT, menambahkan SASTTPM akan menyajikan informasi dengan mengolah data yang diunduh dari Internet.

Data kemudian disajikan dalam bentuk visualisasi angka dan peta penyebaran penyakit per kabupaten dalam waktu tertentu.

Sebagai contoh, pada 2006, di Kota Bandung, Jawa Barat, ditemukan 11 kasus flu burung.

Dari 11 kasus itu diketahui 5 orang meninggal dan 6 orang berhasil terselamatkan.

Dalam SASTTPM, selain data mengenai jumlah penderita, ditampilkan pula peta lokasi Kota Bandung.

Bukan hanya itu, grafik yang terpampang bisa menunjukkan kategori kejadian, apakah tinggi atau rendah.

Grafik berwarna merah mengindikasikan kasus yang terjadi termasuk ke dalam kategori tinggi, mencapai lebih dari 6 kasus.

Sementara itu, grafik yang berwarna kuning menunjukkan bahwa kasus tergolong ke dalam kategori rendah, baru mencapai 1 sampai 2 kasus.

Mengunduh dari Internet

Secara sederhana, SASTTPM ter diri dari mesin pencari web untuk mengunduh informasi dari Internet dan memasukkannya ke dalam data base.

Date base itu akan me lakukan pencarian secara off line.

Text mining dengan teknologi natural language processing (NLP) berbahasa Indonesia dipakai untuk mengekstrak informasi spatio temporal, menganalisis, dan memvisualisasi.

Untuk mendapatkan data, hal pertama yang harus dilakukan pengguna ialah menjalankan teknik crawling, yaitu mengumpulkan data dan menyimpannya dengan menggunakan perangkat lunak open source Nutch.

Perangkat lunak berbasis Java itu merupakan mesin pencari web, seperti hal Google yang bebas dipakai siapa saja.

Nutch dilengkapi dengan fungsi spesifik web, seperti crawler, data base link-graph, serta parser untuk HTML dan format dokumen lainnya, seperti JavaScript, MS Excel, PowerPoint, Word, Open Office, Adobe PDF, dan Shockwave Flash untuk memudahkan pengunduhan data.

Dengan menulis corpus objek “demam berdarah” pada layar penelusuran Nutch, maka akan ditampilkan sekitar 337 ribu artikel.

Situs-situs itu lalu diunduh dan dimasukkan ke dalam data base.

Lantaran menyimpan banyak situs, server yang dipakai harus memiliki kapasitas besar.

Selain menampilkan clue berdasarkan objek, sistem itu juga bisa menyajikan peta daerah dan waktu.

Pengguna tinggal mengetik corpus nama kabupaten serta tanggal, bulan, dan tahun.

Setelah data terkumpul dalam data base, langkah selanjutnya ialah menjalankan teknik searching.

Text mining dengan NLP berbahasa Indonesia akan meng ekstrak informasi spatio temporal penyebaran penyakit, menganalisisnya, dan memvisualisasikannya.

Fungsi lain dari text mining ialah mengategorisasikan teks dan mengelompokkan teks. Dengan adanya teknik searching tersebut, maka sistem hanya akan mencari informasi yang diperlukan dari tumpukan data yang ada.

“Untuk sementara ini perangkat akan memilih berdasarkan datadata yang diberitakan oleh media harian nasional saja.

Pengembangan ke depan akan mengikutsertakan berita-berita dari harian lokal yang juga sudah memiliki situs di Internet,” jelas Dwi.

Proses selanjutnya, data hasil ekstraksi ditampilkan dalam bentuk graphic user interface (GUI) agar mudah dipahami banyak orang.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, visualisasi akan menampilkan tabel, grafik, dan peta Indonesia yang diperoleh dari sistem informasi geografi.

Alhasil, tampilan pun berisikan informasi yang lengkap, meliputi waktu kejadian, lokasi, serta kuantitas penyakit.
hay/L-2

Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta

Mendeteksi Tsunami dengan Teknologi Serat Optik




Senin, 01 Nopember 2010


Kerusakan infrastruktur serta timbulnya ratusan korban jiwa di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, menjadi salah satu bukti betapa gempa yang bersumber dari dasar laut memiliki kekuatan yang begitu dahsyat. Gempa tersebut mampu menyebabkan timbulnya gelombang tinggi yang kerap di sebut dengan tsunami. Untuk mengantisipasi kerugian materi dan jiwa akibat sapuan tsunami tersebut, diperlukan sistem peringatan dini yang bisa mendeteksi kedatangannya.

Sistem yang dikenal dengan tsunami early warning system itu diaplikasikan untuk mengetahui secara dini datangnya gelombang laut sebelum mencapai pantai. Pada dasarnya, sistem itu merupakan suatu alat atau mekanisme yang memberikan informasi awal kepada masyarakat yang utamanya tinggal di sekitar pantai. Sistem peringatan dini tsunami yang kini diterapkan di beberapa wilayah di Indonesia berupa buoy atau pelampung tsunami.

Perangkat itu dilengkapi sensor getaran atau accelometer, sensor posisi (global positioning system/GPS), dan sensor tinggi muka air laut (bottom pressure). Peletakan alat umumnya di wilayah tektonik yang selama ini diperkirakan sebagai lokasi rawan gempa. Sistem peringatan dini tsunami bekerja dengan memanfaatkan sensor gelombang laut. Prosesnya, sensor gelombang laut pada buoy akan mendeteksi adanya perubahan tinggi muka air laut yang diketahui melalui adanya perbedaan tekanan.

Bahkan anomali air setinggi satu sentimeter saja dapat dideteksi dengan baik oleh alat tersebut. Ketika gelombang naik, tekanan yang menimpa sensor menjadi berat. Informasi itu kemudian dikirim oleh transmitter yang terpasang langsung ke satelit. Satelit selanjutnya akan mengirimkan data pada Badan Metereologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Lembaga itu kemudian memberikan peringatan adanya bahaya tsunami kepada masyarakat melalui pesan singkat atau short message service (SMS), telepon, dan faksimile. Dalam informasi tersebut, pihak BMKG biasanya juga menyertakan keterangan apakah gempa berpotensi tsunami atau tidak. Menilik kasus di Mentawai yang terjadi baru-baru ini, peringat an terjadinya tsunami tidak berjalan optimal. Pasalnya, alat buoy yang biasanya terpasang di perairan Mentawai sedang mengalami kerusakan.

Menurut Ridwan Djamalu din, Deputi Kepala Bidang Teknologi Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sistem transmitter data dan antena yang ada pada buoy rusak dan ditarik untuk diperbaiki pada September 2010. Rencananya, setelah diperbaiki, alat itu dipasang kembali pada November 2010.

Lebih lanjut, Ridwan menjelaskan kerusakan alat pendeteksi dini tsunami itu merupakan akibat dari tindakan vandalisme dan hilang dicuri. “Banyak masyarakat yang belum mengerti fungsi buoy sehingga mereka sering menggunakannya untuk menambatkan perahu, mencuri beberapa sensor, antena, dan kerusakan-kerusakan lainnya,” ujar Ridwan. Apa yang diterangkan Ridwan dibenarkan pula oleh Imam Mudita, peneliti dari Balai Teknologi Survei Laut BPPT.

Menurut dia, buoy perlu diperbaiki karena semua komponennya tidak berfungsi akibat dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Lebih lanjut, Imam mengatakan gempa bumi berkekuatan 7,2 skala richter yang meluluhlantakkan Pulau Pagai, Siberut, dan Sipora, di Kepulauan Mentawai sulit diprediksi dengan menggunakan bouy yang dipasang di cincin tektonik yang letaknya di bagian utara Pulau Pagai.

Pasalnya, pusat gempa bumi berada di selatan Pulau Pagai dengan jarak sekitar 50 kilometer dari pantai Pagai. Selain itu, kedatangan tsunami begitu tiba-tiba, hanya berselang 5 sampai 7 menit dari kejadian gempa bumi. “Artinya tsunami baru diketahui buoy setelah menerjang Pulai Pagai,” ujar Imam. Berdasarkan kejadian tersebut, pihak BPPT berencana mengevaluasi keberadaan buoy dan posisi peletakannya.

Pihaknya juga bermaksud membuat sistem deteksi tsunami dengan GPS. Kedua teknologi itu sebenarnya telah dikuasai BPPT, dan apabila proses evaluasi telah selesai, teknologi tersebut bisa segera diaplikasikan. Ridwan mengatakan penerapan teknologi sensor tenggelam dapat menghindarkan perangkat dari upaya-upaya vandalisme dan pencurian. Hal itu dikarenakan alat dipasang di bawah permukaan air sehingga sulit bagi oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang berniat merusak alat itu.

Meski demikian, papar Imam, alat tersebut tetap menggunakan sensor tekanan air yang disebut dengan bottom pressure gauge (BPG). Alat tersebut akan mendeteksi adanya tsunami melalui tekanan air yang dihasilkan. Tekanan air dapat diketahui dengan mendeteksi perubahan muka air laut yang turun secara drastis dan mendadak.

Informasi Lengkap

Karena alat itu berada di bawah permukaan air, pengiriman data ke satelit tidak dapat digunakan dengan transmitter. Pasalnya, proses pengiriman data akan mengalami kendala ketika menembus air. Oleh ka rena itu, pengiriman data harus dilakukan melalui kabel di bawah laut. Dengan cara itu, papar Imam, hilangnya informasi di perjalanan jika dilakukan melalui kabel biasa dapat teratasi.

Pada dasarnya serat optik memantulkan dan membiaskan cahaya yang ada di dalam perairan sehingga tidak menjalar keluar dan hilang, tidak seperti pada kabel biasa. Dengan sumber cahaya dari laser, cahaya yang ada di dalam serat optik tidak hilang di perjalanan. “Kecepatan transmisi serat optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran komunikasi,” ujar Imam.

Dalam presentasi yang dilakukan di depan Menteri Koordinator Bidang Kejahteraan Rakyat pada 2007, disebutkan sistem serat optik lebih cepat dalam hal akses penyampaian peringatan. Meski demikian, penerapan teknologi tersebut terkendala dari sisi biaya dan pemasangannya. Pasalnya, serat optik mesti ditanam di bawah laut dengan kedalaman hingga ribuan kilometer dan panjang berkilo-kilometer.

Menurut Ridwan, biaya pemasangan teknologi itu lima hingga enam kali lebih mahal dari sistem buoy. Sebagai gambaran, untuk memasang satu unit buoy saja dibutuhkan biaya lima miliar rupiah. Teknologi alternatif lain yang bisa diterapkan ialah sensor GPS. Sensor itu bisa mengetahui tinggi muka air laut. Perangkat tersebut bisa dipasang dengan cara sete ngah mengapung di perairan. Ke tika sensor GPS menerima infor masi adanya perubahan tinggi muka air laut secara mendadak, alat itu akan muncul ke permukaan.

Namun, menurut Imam, alat tersebut juga masih mengandung kelemahan, yakni hanya mampu dipasang dalam jarak 20 kilometer dari pantai. Apabila melebihi jarak tersebut, alat tidak dapat lagi mengirimkan data. Padahal, informasi adanya tsunami ketika gelombang tinggi itu sudah semakin mendekat ke tepi pantai menjadi kurang berguna.

Meski begitu, setidaknya sensor yang dipasang di dekat pantai di pulau-pulau luar dapat membantu memberikan informasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk segera melakukan proses evakuasi dan pengungsian.
hay/L-2
Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta



Mengolah Rumput Laut Menjadi Mi Kaya Serat


  
  




Jumat, 02 Juli 2010


Perairan Indonesia yang cukup luas berpotensi meng hasilkan rumput laut dalam jumlah besar.

Sayangnya, budi daya rumput laut di Tanah Air masih sedikit. Hal itu bisa dilihat dari jumlah produksi rumput laut per tahun yang baru mencapai 910.636 ton.

Data tersebut diperoleh dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2005.

Mengingat manfaatnya antara lain sebagai bahan campuran untuk makanan dan minuman, rumput laut termasuk salah satu sumber daya perairan yang bernilai ekonomi tinggi.

Selama ini, tumbuhan laut yang termasuk keluarga ganggang itu kerap diolah sebagai manisan, agar-agar, serta campuran es campur.

Selain sebagai bahan makanan dan minuman, rumput laut juga dijadikan sebagai bahan pembuatan obat lantaran kaya akan kandungan mineral dan gizi.

Salah satu unsur yang terkandung dalam rumput laut ialah kalsium. Berdasarkan penelitian, diketahui kandungan kalsium pada rumput laut mencapai 10 kali lebih tinggi ketimbang susu.

Karenanya, rum put laut acap kali dimanfaatkan sebagai obat anti-osteoporosis. Tumbuhan yang habitatnya di laut itu juga kaya akan mineral, asam amino, asam nukleat, karbohidrat, gula, dan aneka vitamin.

Beberapa jenis mineral yang terkandung di dalam rumput laut, antara lain besi, yodium, aluminium, mangaan, kalsium, nitrogen, fospor, sulfur, silikon, klor, barium, titanium, dan kalium.

Dari sekian banyak unsur yang terkandung di dalam rumput laut, unsur terbanyak ialah karbohidrat.

Uniknya, karbohidrat pada rumput laut terdiri dari senyawa gumi, yakni senyawa polimer polisakarida yang berbentuk serat.

Oleh karena itu tidak heran apabila rumput laut mengandung banyak serat. Serat tersebut sifatnya dietary fiber, yakni serat dengan kandungan karbohidrat hanya sedikit yang dapat diserap tubuh.

Berdasarkan hal itulah peneliti rumput laut dari Jurusan Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Bonit Novrianto dan timnya mencoba mengolah rumput laut menjadi mi.

Bonit mengatakan alasan dia dan timnya memilih mi karena selama ini masyarakat Indonesia, baik di perkotaan maupun di perdesaan, sangat menggemari makanan tersebut.

Mi instan, misalnya, begitu digemari banyak kalangan karena terbilang murah dan mudah dimasak.

Penambahan rumput laut ke dalam mi, papar Bonit, dapat menambah konsumsi serat pada masyarakat yang masih kurang.

“Serat dikenal sebagai bahan makanan yang dapat membantu melancarkan metabolisme tubuh, di samping manfaat lainnya,” ujarnya.

Bersama empat rekan mahasiswa IPB lainnya, Bonit menambahkan sekitar 30 persen rumput laut ke dalam adonan terigu dan sagu sebagai bahan dasar mi.

Berdasarkan hasil penelitian mereka, komposisi tersebut merupakan komposisi yang paling ideal dan membuat mi pas untuk dikonsumsi.

Apabila kandungan rumput laut yang ditambahkan melebihi 30 persen, maka mi akan menjadi lembek atau tidak kenyal lagi.

Hal itu bisa dimaklumi, pasalnya semakin tinggi komposisi rumput laut, maka semakin tinggi pula kandungan seratnya.

Rumput laut yang digunakan sebagai bahan campuran mi itu berasal dari jenis Eucheuma cottonii. Rumput laut tersebut banyak terdapat di pantai berkarang.

Lantaran manfaatnya yang luar biasa Eucheuma cottonii menjadi primadona dalam perdagangan internasional.

Bonit menjelaskan pembuatan mi rumput laut dilakukan dengan cara merendam rumput laut dengan konsentrasi tertentu dalam cairan yang diberi NaOH.

Perendaman tersebut dimaksudkan agar rumput laut menjadi lunak dan untuk menjaga agar derajat keasaman (pH) berada pada kisaran 6 sampai 7.

Dengan kisaran pH tersebut proses ekstraksi nantinya dapat berjalan baik. Proses selanjutnya rumput laut dibersihkan dari senyawa NaOH dengan air bersih.

Setelah bersih rumput laut kemudian dihancurkan dengan menggunakan blender elektronik sampai terlihat lembut.

Rumput laut yang sudah lembut itu selanjutnya disaring dengan menggunakan penyaring ukuran tertentu.

“Setelah itu, ekstrak dipanaskan dengan kompor selama lima menit,” jelas Bonit.

Proses pemanasan membuat ekstrak rumput laut berbentuk menyerupai tepung. Selanjutnya, tepung rumput laut dicampur dengan tepung terigu dan tepung sagu.

Ketiga bahan tersebut diaduk-aduk hingga kalis dan kemudian dibuat lembaranlembaran dengan menggunakan alat.

Lembaran-lembaran itu lalu dipotong-potong kecil memanjang menyerupai mi biasa.

Irisan panjang-panjang itu lalu dibentuk menyerupai mi instan, bisa berbentuk kotak atau bulat bergantung selera.

Setelah proses membentuk mi tersebut selesai beranjak ke proses selanjutnya yakni perebusan.

Apabila mi yang direbus itu terlihat matang, selanjutnya diangkat dan kemudian dijemur atau dikeringkan di dalam oven.

Pada mi basah tidak perlu lagi dilakukan pengeringan. Pasalnya, pe nge ringan bertujuan untuk membuat mi tahan lama.

Sementara itu bagi mereka yang langsung ingin memasaknya, mi basah bisa segera dimasak dengan bumbu sesuai selera.

Tanpa Pengawet

Mi kering berbahan dasar rumput laut itu memiliki waktu kedaluwarsa tiga bulan.

Sedangkan mi basah hanya bertahan tiga hari. Waktu ke daluwarsa yang singkat dikare nakan mi rumput laut tidak menggunakan bahan pengawet seperti mi instan pada umumnya yang bisa awet hingga satu tahun.

Menurut Bonit, selain bebas bahan pengawet, mi rumput laut itu memiliki beberapa kelebihan lainnya dibandingkan dengan mi biasa.

Dari sisi rasa, misalnya, adanya penambahan rumput laut menjadikan mi terasa lebih kenyal.

Dengan begitu ketika direbus terlalu lama dalam air panas mi tidak mudah hancur.

Kelebihan lainnya, mi rumput laut mengandung bahan anti-oksidan yang dapat melawan zat karsinogenik, yakni zat pemicu kanker.

Bagi mereka yang kurang suka atau jarang mengonsum si sayur dan buah, menyantap mi rumput laut dapat mewakili pemenuhan kandungan serat yang banyak terdapat pada sayur dan buah.

Dengan kandungan yodium yang mencapai 0,1 hingga 0,15 dari berat kering rumput laut, menjadikan mi rumput laut bermanfaat pula untuk mencegah penyakit gondok.

Selain itu, penambahan rumput laut pada mi dapat mengurangi tingkat konsumsi gandum.

Seperti diketahui gandum selama ini gandum diperoleh melalui jalur impor. Rumput laut juga bisa mengatasi kerawanan pangan di Tanah Air.

Jika selama ini singkong, jagung, dan ubi kerap dikonsumsi masyarakat yang kesulitan membeli beras sebagai bahan makanan pokok, maka masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah pesisir, bisa mengonsumsi rumput laut sebagai bahan tambahan pada makanan tersebut.
hay/L-2
Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta




Mereduksi Toksin dengan Protein

31 Oktober 2008
Petani di Indonesia kerap menggunakan pestisida untuk membasmi hama tanaman. Padahal, itu amat berbahaya bagi kesehatan. Untuk meminimalisasi racun yang terkandung dalam pestisida, dapat digunakan enzim.

Pestisida merupakan alat untuk mengontrol hama tanaman dan organisme yang tidak disukai atau merugikan tanaman pertanian. Namun, di balik keefektifannya, zat pembasmi ini mengandung toksin atau racun. Akumulasi residu atau endapan pestisida di lahan pertanian dapat mengakibatkan keracunan bagi konsumen produk pertanian. Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya residu kadar pestisida yang tinggi pada beberapa produk pertanian, seperti beras, sayuran, dan aneka buah-buahan.

Senyawa pestisida bersifat pulotan organik yang bandel atau persistence organic pollutant (POP). POP bersifat bioakumulatif, biomagnifikatif, dan biokonsentratif sehingga konsentrasinya dapat bertahan lama dalam suatu organisme bukan sasaran (nontarget), sangat membahayakan, misalnya pada manusia.

Residu pestisida pada lahan pertanian Indonesia diperkirakan kondisinya telah mencapai ambang yang membahayakan. Untuk itu, perlu dicarikan jalan keluar agar residu pestisida yang ada bisa terdegradasi.

Menurut Nina Hermayani Sadi, peneliti enzim dari Pusat Penelitian Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogor, limbah pestisida yang banyak ditemui pada lahan pertanian dapat didegradasi kadar racunnya (toksid) dengan cara memanfaatkan biokatalis berupa enzim. Enzim yang dihasilkan dari mikroorganisme tersebut dapat mendegradasi racun pestisida pada lahan pertanian hingga kadarnya berkurang.

Menurut Mari Ulfah, Asisten Peneliti pada bagian Rekayasa Genetika Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), pada dasarnya enzim merupakan protein yang berfungsi menjadi katalis dalam proses biokimia. Dengan biokatalis dari enzim proses reaksi kimia menjadi lebih cepat dibandingkan dengan reaksi kimia biasa.

Ia mengatakan sifat enzim yang bekerja hanya pada substrat atau bahan dasar yang spesifik memberi peluang baru untuk memanfaatkannya dalam kehidupan manusia. Pada dasarnya, terdapat tiga jenis aplikasi enzimatis, yaitu untuk menghasilkan, mendeteksi, dan mendegradasi senyawa tertentu.

Amobilisasi

Nina menambahkan agar proses degradasi lebih murah, enzim tersebut harus dilakukan amobilisasi terlebih dahulu. Tujuan proses ini agar enzim bisa dipakai berulang kali sehingga tidak memboroskan biaya. ?Proses kimia dengan mempergunakan enzim saat ini memang masih mahal,? katanya.

Amobilisasi dapat mencegah terbukanya lipatan-pilatan protein enzim, dengan begitu aktivitas enzim dapat berkerja secara maksimal. ?Atau dengan kata lain dengan amobilitas enzim akan dapat meningkatkan kestabilan struktur enzim sehingga dapat bekerja berulang kali,? ujar Nina.
Lebih jauh ia mengatakan enzim amobil merupakan enzim yang dilokalisasi atau diikat dalam suatu bahan penyangga. Bahan penyangga bisa berupa papan atau membran tertentu untuk mempertahankan kemampuan aktivitas katalisnya, sehingga dapat dipergunakan berulang kali.

Saat ini, dikenal tiga macam metode amobilisasi enzim, yaitu dengan metode absorpsi, metode ikatan silang, dan metode penyerapan. Metode absorpsi merupakan metode yang sangat sederhana. Metode ini menggunakan permukaan padat untuk menyerap atau menempelkan enzim di atas permukaan dengan memanfaatkan bahan padat sebagai tempat menyerap enzim. Bahannya bisa berupa alumina, bentonit, anion selulosa, resin, kaca, dan lainnya.

Metode ikatan silang merupakan merupakan metode amobilisasi dengan memadukan metode absorpsi dan multifungsi pengikatan lain sehingga akan terbentuk ikatan silang yang lebih baik. Enzim kemudian terikat kuat sehingga tidak larut dalam air.

Sedangkan metode penjerapan atau entrapment, merupakan metode yang memanfaatkan perbedaan ukuran antara subtrat, produk, dan biokatalis. Biokatalis akan tertahan dalam sebuah ruangan matrik, sementara subtrat dan biokatalis dapat bergerak bebas. ?Secara sederhana metode penyerapan enzim dilakukan dengan mencampurkan enzim ke dalam bahan pelarut yang mudah dipadatkan,? katanya.

Nina memberi catatan, pemilihan bahan penyangga amobilisasi harus berdasarkan pada aktivitas biokatalis, yaitu struktur, aktivitas enzim, metode amobilisasi yang digunakan, dan kondisi proses amobilisasi.

Proses Degradasi

Proses digradasi limbah pestisida dengan memanfaatkan enzim tidak mudah. Satu hal yang perlu dicatat, kata Nina, dalam penanganan limbah pestisida secara enzimatis, sistem yang dikembangkan harus melalui tahap pengajian yang teliti sehingga tidak diperoleh hasil yang tidak diharapkan.

Nina mengatakan tidak semua jenis pestisida dapat dihidrolisis dengan menggunakan satu jenis biokatalis enzim. Namun, proses ini bergantung jenis pestisida, jenis mikroba, dan media pembiakan tempat berkembangnya bakteri tersebut sebelum dapat diigunakan. ?Harus ditentukan dulu jenis pestisidanya, jenis mikroba yang tumbuh pada lahan pertanian yang akan didegradasi dengan enzim,? katanya.

Untuk menentukan enzim penghidrolisis pestisida pada lahan pertanian, yang perlu dilakukan adalah dengan menentukan jenis mikroba. Untuk itu yang perlu dicari terlebih dahulu mikroba yang hidup pada lahan pertanian tersebut. Bakteri yang didapat, kemudian dibiakkan dalam media yang mengadung pestisida tertentu. Tujuannya supaya bakteri ini bisa tahan terhadap zat beracun ini. Dalam media ini mikroba kemudian menghasilkan enzim kasar yang akan dimurnikan dan selanjutnya diamobilisasi.

Untuk menghidrolisi jenis pestisida herbisida fenilkarbamat, misalnya, maka jenis yang digunakan adalah jenis enzim yang dihasilkan oleh mikroba dari genus Arthrobacter (Arthrobacter sp). Caranya dengan membiakkan mikroba ini dalam medium diklorofenosiastet terlebih dahulu. Setelah proses ini, enzim baru bisa dipakai untuk menghidrolisi herbisida jenis fenol terklorinasi.
Demikian juga untuk jenis pestisida fenil karbamat digunakan jenis mikroba dari jenis genus Peseudomonas. Mikroba ini dibiakkan dalam dalam herbisida fenilkarbamat dan akhirnya dapat digunakan untuk menghidrolisis beberapa pestisida golongan fenil seperti karbamat dan asilanilida.
Setelah enzim ini jadi maka bisa digunakan dalam lahan pertanian. Bila berbentuk pelet enzim bisa ditaburkan di atas lahan pertanian. Tapi bila berbentuk cair maka enzim dapat dicampurkan di dalam larutan penyaring, untuk menghidrolisis air yang mengandung pestisida pada lahan pertanian yang bersama dengan proses penyaringan air
Ezim mempunyai keunggulan dalam mendegradasi pestisida, karena biokatalis ini bisa digunakan dalam suhu ruang dan pH netral. Reaksi enzimatis tidak memerlukan bahan kimia konvensional sehingga ramah lingkungan. Bahan kimia biasa untuk mendegradasi kadang berbahaya karena menghasilkan efek samping.

Keuntungan lain reaksi enzimatis, pada saat degradasi tidak terpengaruh oleh toksisitas limbah yang ada dibanding dengan cara biologis menggunakan tanaman air. Enzim juga mampu menghasilkan reaksi yang bersih yang tidak berefek samping lantaran memunyai kekhususan pada struktur molekul pembentuknya. (hay/L-4)

Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta

Menentukan Sumber Air Tanah dengan Akurat

MENENTUKAN SUMBER AIR TANAH DENGAN AKURAT

14 Juli 2010




Masyarakat sering kali mengalami kegagalan ketika hendak membuat sumur lubang maupun sumur pompa. Padahal, mereka telah menggali atau memasukkan pompa ke dalam tanah sedemikian dalam.

Salah satu kegagalan itu disebabkan masyarakat tidak mengenali karakteristik tanah dan zona air tanah. Hal itu bisa dimaklumi. Pasalnya, di daerah dengan ketinggian tertentu, sulit ditemukan air tanah.

Pada tanah dengan karakteristik permeable atau kedap air, akan sulit ditemukan air tanah bebas, yaitu air tanah yang bisa ditemukan dengan menggali sumur biasa.

Untuk menemukan lapisan akuifer, yaitu lapisan aliran air tanah di bawah lapisan kedap air dan menembus lapisan kedap air, biasa nya ditempuh cara pengeboran.

Sayangnya, cara itu kurang efektif karena air tanah tidak ditemukan pada kondisi tanah seperti itu. Oleh karena itu, agar air tanah dapat dengan mudah ditemukan tanpa perlu menggali lebih dalam, sebaiknya terlebih dahulu diketahui zonasi air tanah.

Secara teori, air tanah dengan mudah ditemukan di wilayah luahan atau discharge zone. Wilayah luahan ialah daerah tempat tertampungnya air, dan air tersebut relatif terus berdiam di tempat tersebut.

Pada daerah itu, biasanya terdapat mata air, namun pada daerah resap an air tidak ditemukan air tanah.

Menurut Rachmat Fajar Lubis, peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), secara umum peresapan air tanah dimulai ketika air hujan jatuh ke tanah yang memiliki kemampuan menyerap.

Daerah itu merupakan recharge zone bagi air hujan untuk masuk ke dalam tanah lewat bantuan gravitasi Bumi. Air hujan itu masuk melalui pori-pori tanah, celah batuan, atau rekahan pada batuan atau tanah.

Proses penyerapan itu akan terakumulasi pada titik kedap air. Pada titik itu, air tidak menembus ke bawah karena tidak ada lagi pori-pori atau rekahan sebagai jalan masuk.

Karena banyaknya air yang terkumpul, area tersebut kerap disebut dengan zona jenuh air atau saturated zone. Fajar menjelaskan pergerakan atau aliran air tanah itu menjadi kunci dalam menentukan apakah suatu daerah mengandung banyak air tanah atau tidak.

“Perlu dicatat, tidak seluruh daerah memiliki potensi air tanah alami yang baik,” ujarnya. Namun, sayangnya, zona air sepertinya sering hilang akibat ulah manusia.

Di beberapa wilayah, semisal wilayah padat penduduk dan kawasan industri, air tanah mengalami eksploitasi berlebihan. Setiap hari, dari siang hingga malam, masyarakat mengambil air tanah dengan menggunakan pompa-pompa listrik.

Akibatnya, daerah tersebut kehilangan banyak air dan menjadi kering. Selain kekeringan, eksploitasi yang berlebihan terhadap air tanah bisa menyebabkan penurunan muka tanah.

Tanah menjadi ambles beberapa sentimeter ke bawah. Kondisi itu terjadi di beberapa kota pantai, seperti Semarang dan Jakarta. Menurut Fajar, daerah resapan air merupakan tempat masuknya air ke dalam zona jenuh.

Air itu akan membentuk garis khayal yang disebut dengan muka air tanah. Dengan kata lain, air masuk ke daerah luahan. Bisanya cara untuk menentukan luahan air ialah dengan melihat tekanan air berlawanan dengan daerah luahan yang akan mengalami kenaikan tekanan.

“Kondisi itu dapat diaplikasikan pada saat mengukur tekanan air di suatu lubang bor secara vertikal,” kata Fajar. Namun, Fajar mengatakan untuk mengaplikasikan konsep yang sudah ada masih sulit.

Teori lama yang menyebutkan bahwa air akan mengalir dari daerah dengan topografi tinggi ke rendah tidak selalu berlaku. Pasalnya, selain topografi , air tanah dikendalikan oleh kondisi geologis.

Misalnya, air laut yang kini mengalir ke daratan yang lebih tinggi bisa menjadi contoh bahwa topografi rendah mampu mengalirkan air ke topografi tinggi.

Tiga Kelompok

Lantaran beberapa fenomena terbaru itulah Fajar kemudian mempelajari model aliran air tanah. Agar proses analisis lebih akurat, dia mengklasifikasikan air tanah ke dalam tiga kelompok, yakni aliran air tanah regional, transisi, dan lokal.

Aliran air tanah regional adalah aliran air tanah secara umum. Aliran itu turun langsung ke daerah luahan dan berada di satu cekungan yang sama.

Di daerah antara dua pegunungan dan di bibir-bibir sungai, sering terdapat aliran air tanah regional yang ber ujung pada daerah luahan.

Aliran air tanah lokal terjadi karena adanya perbedaan kondisi alam yang bervariasi. Dengan demikian, pola alirannya pun berbeda-beda atau acak. Luas wilayah dari aliran tanah lokal itu sangat bervariasi sehingga perlu ketelitian untuk mengetahui aspek-aspek yang memengaruhinya.

Aliran air tanah transisi merupakan aliran yang dapat berfl uk tuasi mengikuti aliran regional atau lokal, bergantung pada beberapa parameter alam yang ada yang dihubungkan dengan jejaring air tanah atau flow net.

Fajar yang menyandang gelar doktor dari Universitas Chiba, Jepang, itu mengatakan daerah lokal yang memiliki pola sangat bervariasi menunjukkan aliran air tanahnya dipengaruhi oleh gravitasi, topografi , dan geologi.

Secara geologi, struktur batuan dan rekahan tanah di daerah tersebut memengaruhi kondisi aliran air.

Daerah regional, yang memiliki aliran teratur dari daerah resapan di wilayah atas mengalir ke bawah hingga ke luahan air, menunjukkan bahwa aliran air tanah hanya dipengaruhi oleh kondisi gravitasi.

Agar seseorang dapat menentukan mana daerah aliran, daerah resapan, dan daerah luahan, diperlukan kajian yang lebih mendalam. Artinya pengetahuan tentang pengaruh topografi , gravitasi, dan geologi daerah seyogianya dimiliki.

Metode fisika merupakan salah satu metode untuk merekonstruksi pola sebaran lapisan akuifer. Cara nya melalui pengukuran geolistrik seperti pengukuran tanah, induce polarization atau polarisasi listrik pada permukaan mineral, dan peng ukur an seismik dengan georadar.

Metode lain yang bisa diterapkan ialah metode kimia dengan cara merunut pola pergerakan air tanah. Ketika air tanah melawati suatu media, air akan membawa mineral dari batuan atau tanah yang dilewatinya.

Perunutan dilakukan dengan menganalisis mineral yang dibawa air tanah. Sebelum melakukan pengeboran, kedua metode itu hendaknya dipakai agar penentuan area air tanah bisa lebih akurat.

Dengan demikian, upaya pengeboran pun tidak akan sia-sia dan merusak lingkungan sekitar. hay/L-2
Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta

Toilet Kering Kurangi Pencemaran Lingkungan

 04 September 2009

Penggunaan serbuk kayu pada toilet kering membuat bakteri alami hidup dan mampu mendegradasi kotoran. Sifat serbuk kayu yang mampu menangkap udara membuat proses pembusukan tidak menimbulkan bau.

Di tengah fenomena kelangkaan air bersih yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, upaya penghematan air tentu perlu dilakukan.

Segala aktivitas yang membutuhkan air bersih sejatinya patut dilakukan dengan bijaksana agar di masa-masa mendatang air bersih tetap tersedia.

Memang ada aktivitas yang mutlak membutuhkan air bersih dan tak bisa begitu saja dikurangi, seperti memasak atau mencuci perabotan dapur.

Namun, ada juga aktivitas lain yang membutuhkan air bersih, tetapi penggunaannya dapat ditoleransi, yaitu mandi-cuci-kakus (MCK).

Menurut Dr Neni Sintawardani, peneliti sanitasi pada Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), berdasarkan data di negara-negara maju, penggunaan air bersih rata-rata mencapai 200 liter per hari per orang.

Sedangkan di Indonesia, penggunaannya berkisar 125 hingga 150 liter per hari per orang.

Berdasarkan survei kualitatif yang dilakukan di Kiaracondong, Bandung, pada 2005, Neni mendapatkan perilaku tidak hemat air yang dilakukan penduduk di daerah kumuh itu. Mereka menghabiskan air rata-rata 89 liter per hari per orang.

Penggunaan air paling banyak dilakukan untuk keperluan buang air besar dan kecil yang masing-masing membutuhkan 25 dan 11 liter per hari per orang.

Sisanya untuk mencuci, membersihkan perabotan dapur, menyiram tanaman, dan memasak.

Celakanya, air yang digunakan masyarakat bukan air bersih sehingga untuk kebersihan air bersih mereka harus membeli.

Di beberapa daerah kantong kemiskinan, masyarakat banyak menghabiskan air untuk keperluan MCK. Air ini mereka beli dengan harga mahal dari pedagang air keliling.

Beberapa daerah di kantong kemiskinan masyarakat, seperti Kapuk Muara, Jakarta Utara, air bersih dijual seharga 1.500 hingga 2.000 rupiah per jerigen isi 20 liter.

Maka, bisa dibayangkan jika air tersebut juga digunakan untuk kebutuhan selain makan, minum, dan masak. ”Masyarakat miskin malah membeli dengan harga mahal daripada orang kaya,” ujarnya.

Di tengah krisis air bersih dan krisis energi dunia, upaya-upaya penghematan air mutlak dilakukan. Namun tentunya, masalah sanitasi dan kesehatan tidak dikesampingkan.

Dan sebagai salah satu penyumbang terbesar penggunaan air, keperluan MCK sebaiknya dikurangi tanpa harus mengurangi kualitas kesehatan masyarakat.

Neni mengatakan salah satu cara untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan adalah dengan mengubah kebiasaan yang kurang sehat dan melakukan kegiatan hemat air.

Dengan kebiasaan bersih, aka kualitas hidup akan meningkat. Dan untuk memulai kebiasaan bersih, masyarakat harus dikenalkan dengan teknologi sederhana yang ramah lingkungan dan higienis.

Toilet Kering

Untuk memulai prioritas hidup sehat hemat air, Neni mencoba memperkenalkan inovasi toilet kering.

Bersama tim dari LIPI, doktor teknik lingkungan lulusan Jerman ini merancang toilet sederhana yang hemat air dan tetap higienis.

Menurutnya, ketimbang mempertahankan toilet konvensional yang boros air, jenis toilet alternatif yang hemat air dan tidak berbau bisa dikembangkan.

Toilet ini nantinya cocok digunakan di daerah-daerah kering di Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur, Gunung Kidul (Daerah Istimewa Yogyakarta), dan Pacitan (Jawa Timur).

Ide toilet kering mengambil dari konsep cubluk yang merupakan kakus khas perdesaan di Jawa. Cubluk dulu dikenal sebagai sarana masyarakat Jawa membuang hajat.

Mereka membuat lubang dengan ukuran tertentu sambil menggali tanah lebih dalam sebagai tempat tinja.

Cubluk yang kering dinilai menghemat penggunaan air karena tidak ada air yang masuk ke penampungan.

Namun dari segi kebersihan, tidak menguntungkan karena tinja tidak terurai dengan baik dan menimbulkan bau.

Berbeda dengan cubluk, toilet kering ini mampu mengurai 60 persen kotoran manusia dalam satu hari. Kelebihan lainnya, toilet kering ini tidak menebarkan bau seperti lubang septic tank.

Manfaat lain toilet kering adalah mampu menghemat biaya, mencegah pencemaran lingkungan, tidak memerlukan pemipaan, dan mengurangi biaya instalasi.

Pada prinsipnya, ada empat hal yang harus disiapkan untuk membuat toilet kering, yaitu lubang tinja dan kotak penampungan tinja, alat pengaduk, serbuk kayu, dan pipa aliran udara.

Kotak tinja yang terbuat dari keramik digunakan sebagai tempat jongkok. Ukuran ruang penampungan disesuaikan dengan kebutuhan sebagai tempat degradasi kotoran. Sedangkan pipa udara digunakan sebagai gas buang sekaligus membantu kondisi aerobik (proses yang melibatkan udara) dalam proses degradasi tinja.

Setelah dipakai untuk membuang kotoran, alat pengaduk yang digerakkan dengan mesin dan motor dengan kekuatan tertentu diaktifkan.

Saat itu, tinja akan bercampur dengan serbuk kayu. “Para pemakai biasanya merasakan panas. Ini karena ada proses degradasi bakteri di bawahnya,” terang Neni.

Serbuk kayu digunakan karena bahan ini mengandung selulosa. Bahan ini memiliki sifat menyerap. Secara mikroskopis, serbuk kayu yang berpori-pori membuatnya mampu menangkap materi seperti oksigen (O2) dan air (H2O).

Hasil studi menunjukkan serbuk kayu dapat menyimpan udara sebanyak 50 persen, menyerap padatan hingga 10-15 persen, dan menahan air 35-40 persen.

Campuran serbuk kayu dan tinja tidak memerlukan bakteri tambahan sebagai pengurai. Bakteri alami yang ada sudah mampu mendegradasi kotoran.

Selain mendegradasi kotoran, bakteri ini menguapkan karbondioksida (CO2) dan H2O ke udara. Bahan bermateri padat seperti mineral, nitrogen, fosfat, dan sejenisnya tetap tertinggal di dalam tanah.

“Setelah empat hingga enam bulan, campuran tinja dan serbuk kayu dapat dipanen.

Hasil panenan ini berupa kompos yang dapat digunakan untuk pemupukan tanaman,” ujarnya.

Saat ini, Neni telah menguji coba beberapa tipe dengan ukuran yang berbeda. Ada tipe 50 untuk 40 orang, tipe 15 untuk 10-15 orang, dan tipe 5 untuk satu keluarga kecil terdiri dari ayah ibu dan dua orang anak.

Tipe-tipe ini telah terpasang di Kiaracondong, Pesatren Daarut Tauhid Bandung, dan sebuah SD dekat Puspiptek Serpong, Tangerang.

Saat ini, Neni bersama timnya sedang melakukan desain ulang yang terkait masalah estetika demi memenuhi syarat untuk kelas menengah.

Dengan modifikasi menyerupai toilet modern, diharapkan toilet kering ini akan menarik perhatian kelas menengah.

Bahkan sebuah hotel di Bali sudah menyatakan tertarik pada penemuannya. Hotel tersebut, menurut Neni, berusaha menjaring wisatawan mancanegara yang sudah sadar lingkungan.

“Wisatawan mancanegara banyak yang peduli lingkungan sehingga menjadi target market,” katanya. (hay/L-4)

Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta

Wadah Berkumpulnya para Ilmuwan

03 Feb 2010

Pendapat para ilmuwan yang berkumpul dalam satu akademi ilmu pengetahuan kerap digunakan untuk menentukan arah masa depan bangsa ini.

Akademi ilmu pengetahuan menjadi perangkat yang kerap ditemukan di negara modern. Di negara-negara maju yang memiliki tradisi ilmu pengetahuan yang kental, keberadaan lembaga semacam ini seakan menjadi suatu keharusan. Salah satunya Inggris. Negeri Ratu Elizabeth ini memiliki lembaga yang disebut The Royal of London for Improvement of Natural Knowledge atau Royal Society. Perkumpulan yang sudah berdiri sejak 1660 itu bertujuan memajukan dan mempercepat revolusi ilmu pengetahuan.

Bahkan Italia memiliki sejarah tentang lembaga ilmu pengetahuan yang lebih tua lagi. Di negeri tempat para ilmuwan ternama dunia dilahirkan ini, terdapat Accademia dei Iincei yang didirikan 1603. Lembaga ini juga merupakan wadah bagi ilmuwan Italia untuk mempercepat revolusi ilmu pengetahuan ketika itu.Meski tidak setua tradisi keilmuan di Eropa, Indonesia juga memiliki Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia yang pada 2010 ini menapaki usia 20 tahun. . Sebuah usia yang sangat muda jika dibanding dengan akademi-akademi di negara-negara Eropa dan Amerika Utara.

Menurut Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (A1PI) Sangkot Marzuki, akademi ini dibutuhkan sebagai tempat bertanya. Meminta pendapat para ilmuwan dalam menentukan arah masa depan bangsa merupakan kelaziman yang berlaku di negara maju. "Akademi ilmu pengetahuan merupakan perangkat bangsa yang beradab," ujarnya.Berdasarkan hal itulah. Pemerintah Indonesia membentuk AIPI pada 1990, sebagai wadah para ilmuwan terkemuka untuk merumuskan dan memecahkan berbagai permasalah bangsa dengan kaca mata ilmu pengetahuan. Lewat Undang-undang No 8 Tahun 1990 AIPI resmi berdiri.

Namun sayangnya hingga 2007, kiprah AIPI tidak berjalan mulus. Ada masa surut yang harus dialami setelah kelahirannya. Tidak heran banyak orang tidak mengenal lembaga ini.Untuk menghidupkan kembali fungsi lembaga independen ini, pengurus melakukan revitalisasi. Pada 2008 bertepatan dengan 150 tahun teori Revolusi Charles Darwin, AIPI bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Yayasan Wallace melalaikan serangkaian kegiatan ilmiah.Untuk mengenang sumbangan ilmiah naturalis Alfred Russel Wallace, AIPI mengadakan serangkaian acara dan seminar. AIPI menilai apa yang dilakukan Wallace sangat bermanfaat bagi teori evolusi Charles Darwin. Lewat surat-surat yang dikirim dari Ternate, Darwin berhasil mengeluarkan buku The Origin of Species Wall.

Setahun sebelum buku Darwin diterbitkan, Wallace yang masih berada di Ternate mengungkapkan bahwa seleksi alam adalah dasar evolusi makhluk hidup. Sebuah penemuan besar yang diilhami oleh keanekaragaman hayati Indonesia. Menurut Sekretaris lenderal (Sekjen) AIPI, Budi Suyitno, spesimen-spesimen yang dikumpulkan Wallace di Indonesia berhasil membantu Darwin menyusun teori evolusinya.Bahkan penelitian yang yang dibukukan dengan judul The Malay Archipelago berhasil menemukan garis imajiner tetang perbedaan fauna Indonesia Timur dan Barat dengan nama Garis Wallace. Garis ini juga memberikan bukti tentang adanya pergeseran lempeng tektonik benua."Ini sebuah teori yang sangat maju di mana Bumi juga mengalami evolusi. Pemikiran ini jauh sebelum para ahli geologi melakukan penelitian," ujar Sangkot.

Penghargaan terhadap Wallace yang terlupakan ternyata mendapat banyak sambutan di luar negeri. Masyarakat dunia menjadi tahu bahwa Darwin tidak sendiri dalam menyusun teorinya.Budi mengatakan ini bentuk sumbangan AIPI kepada dunia dan Indonesia. Lembaga ini didirikan untuk memberikan sum-" bangan kepada masyarakat dan bangsa dalam bentuk pendapat, saran dan pertimbangan tentang dunia ilmu pengatahuan."Lembaga ini, baik diminta atau tidak, akan memberikan sumbangan pemikiran akan Indonesia masa mendatang," ujar Budi.

Budaya iptek

Lebih jauh, bagi Sangkot, lembaganya harus mampu menumbuhkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
Budaya iptek dalam pandangan Sangkot ditandai dengan keingintahuan yang tinggi (inquiring), toleransi terhadap perbedaan, toleransi terhadap perbedaan, menyikapi perbedaan dengan santun, dan tidak ada kebenaran mutlak. "Prinsip-prinsip ini ada dalam sains," katanya.Serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh A1PI selama ini ditujukan salah satunya untuk meningkatkan budaya iptek. Dengan kendala keuangan yang ada, menurut Sangkot, AIPI berusaha meningkatkan semangat dan bangkit.

Sangkot mengatakan dengan anggaran yang minim, yaitu berkisar pada angka 5 miliar rupiah per tahun, sulit bagi lembaga ini menjalankan fungsinya secara maksimal. Pasalnya, untuk melaksanakan program-program dan pertemuan-pertemuan dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.Ada 48 ilmuwan aktif yang duduk dalam lembaga ini. Mereka setiap bulan mengadakan pertemuan minimal sekali untuk membicarakan permasalahan sesuai dengan komisi bidang masing-masing. Pertemuan ini akan membahas permasalahan sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing, ninuk kemudian dibahas dalam rapat paripurna yang dihadiri seluruh anggota.

Anggota AIPI disyaratkan memiliki prestasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang diakui oleh masyarakat ilmiah. Keanggotaan AIPI berlaku seumur hidup dan dipilih berdasarkan pemilihan oleh anggota. Anggota yang tidak terpilih untuk 5 tahun kedua menjadi anggota kehormatan.Di luar negeri, khususnya di negara maju, anggota akademi semacam ini jumlahnya ratusan orang. Indonesia, dengan jumlah penduduk 2.020 juta orang, menurut Sangkot, tidak pantas jika hanya ada 50 orang ilmuwan yang menjadi anggota AIPI. Hal ini bisa terjadi karena Indonesia masih minim ilmuwan, apalagi ilmuwan kelas dunia yang ditandai dengan terbitnya karya tulis mereka di jurnal-jurnal sains terkemuka.

Alih-alih kemudian diisi oleh mereka yang tidak memiliki prestasi lebih, maka AIPI masih membatasi anggotanya. Apalagi sekarang ini anggarannya masih minim hanya berkisar 5 miliar rupiah per tahun. Masalahnya, menurut Sangkot, jika dipaksakan akan menurunkan mutu AIPI. Risikonya kemudian hasil kerja mereka dalam menelorkan panduan akan semakin menurun kualitasnya.Sejarah pembentukan AIPI diawali dengan pendirian Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) pada 1956. Hal ini dilakukan untuk meneruskan akademi sejenis pada masa pemerintahan Hindia Belanda.Namun pada perkembangannya, MIPI menjadi lembaga riset yang operasional yang kemudian menjadi LIPI. Sebagai lembaga pemerintah, LIPI tidak lagi hanya memberikan saran kepada pemerintah, di sinilah letak kekosongan akademi ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, pada 1990, pemerintah mendirikan AIPI. Dengan Undang-undang No 8 Tahun 1990, AIPI secara sah mampu menjalankan fungsinya. Terpilih sebagai ketua ketika itu Widjojo Nitisastro, seorang ekonom.Sebagai lembaga independen, anggota baru AIPI dipilih oleh angggota lama. Namun, untuk anggota pertama kali dipilih oleh menteri dan lembaga penelitian saat itu, seperti Menteri Riset dan Teknologi BJ Habibie, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan, dan Kepala LIPI Srinarni Samadikun. hay/L-1
Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta