Rabu, 17 November 2010

Implan Tulang untuk Orang Indonesia

Implan Tulang untuk Orang Indonesia
Senin, 19 Juli 2010
Patah tulang merupakan kejadian yang sering dialami masyarakat, baik di perdesaan maupun perkotaan. Hal itu bisa dimaklumi. Pasalnya, banyak aktivitas manusia, seperti olah raga, memanjat, melompat, berkendara, dan bekerja, yang memungkinkan terjadinya cedera pada tulang.

Kecelakaan di jalan raya dan bencana alam termasuk pula faktor penyebab patah tulang. Berdasarkan data yang dilansir RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, diketahui pada bencana gempa Bumi 5,9 skala Richter yang melanda wilayah Yogyakarta dan sekitarnya pada 2006, dari total korban, sekitar 60 persennya menderita patah tulang.

Kondisi yang tidak jauh berbeda ditemui pula pada bencana tsunami di Aceh empat tahun lalu. Hampir 50 persen kasus trauma muskuloskeletal yang ditangani oleh International Committee of the Red Cross (ICRC) berkaitan dengan patah tulang.

Menurut Punto Dewo, ahli tulang sekaligus anggota peneliti implan tulang dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, patah tulang terjadi ketika tenaga yang melawan lebih kuat dari kekuatan tulang.

Tulang yang patah memiliki kemampuan alami untuk sembuh dan menyambung kembali. Meski demikian, tetap saja diperlukan tindakan medis untuk proses penyambungan tersebut.

Umumnya tindakan medis yang dilakukan dimaksudkan untuk menjaga agar struktur dan fungsi bagian tubuh yang bersangkutan kembali normal. Salah satu tindakan medis yang cukup efektif ialah menanam alat implan berupa pelat penyambung tulang.

“Alat itu dipakai untuk membantu fiksasi bagian-bagian tulang yang retak atau patah agar berada pada posisi yang semestinya selama proses penyembuhan,” papar Punto.

Meski penanaman implan itu cukup efektif, sayangnya alat tersebut harganya masih mahal. Selain itu, pelat penyambung tulang yang digunakan selama ini dimensinya tidak pas dengan ukuran anatomi orang Indonesia.

Pelat yang diimpor dari Swiss itu umumnya mengacu pada ukuran orang Eropa yang notabene lebih besar ketimbang orang Indonesia. Selain itu, pelat lokal yang meniru produk luar negeri tersebut dibuat tanpa melalui riset terlebih dahulu.

Alhasil, ketika pelat tersebut dipasang pada tulang orang Indone sia yang patah, alat itu terlalu besar dan tidak cocok diterapkan. Dokter pun harus mengakali ukuran pelat dengan sedikit membongkokkannya.

Konsukuensinya, pelat menjadi sedikit renggang atau tidak pas menempel pada tulang. “Pelat implan menjadi mbenggang,” kata Punto. Pelat yang merenggang berisiko mengakibatkan fiksasi bagian tulang yang patah menjadi kurang ketat menempel.

Struktur tulang yang direkonstruksi pun bisa mengalami kelainan atau kurang sempurna.

Berdasarkan persoalan- persoalan itu, tim yang terdiri dari para peneliti di laboratorium Bahan Teknik, Jurusan Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik UGM, dokter bedah tulang di bagian Ortopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran, dan peneliti di Department of Biomedical Engineering, University Medical Center Groningen, Belanda, melakukan serangkaian uji coba membuat alat implan sendiri.

Para ahli yang memulai penelitian sejak 2007 itu tergolong piawai di bidang teknik mesin, ilmu bahan, manufaktur, dan kedokteran.

Suyitno, peneliti dan dosen Jurusan Teknik Mesin dan Industri, mengatakan setelah berhasil membuat alat implan, langkah kedua yang dilakukan ialah menyurvei responden secara acak untuk mendapatkan data ukuran tulang orang Indonesia.

Ada sekitar 180 responden yang berasal dari Jawa, Sumatara, Kalimantan, Bali, dan Sulawesi yang dilibatkan dalam kegiatan survei tersebut. “Survei belum dilakukan di Papua dan Maluku,” kata dia.

Hasil pengukuran itu, tambah Suyitno, masih dirahasiakan untuk mengantisipasi penjiplakan oleh produsen asing. Meski demikian, dia memberi gambaran bahwa selisih pengukuran pada beberapa responden tidak terlampau besar.

Oleh karena itu, basis data (data base) penelitian dinilai pas untuk membuat gambaran kondisi tulang masyarakat Indonesia Gambar Tiga Dimensi Pada tahap berikutnya, data itu dimasukkan ke sebuah program komputer tiga dimensi.

Data itu lalu keluar dalam bentuk gambar tulang tiga dimensi, utamanya tulang kaki (paha atau femur, tibia, dan fibula) dan tangan (humerus, ulna, dan radius).

Beberapa tulang itu penting dibuatkan pelat karena tergolong tulang-tulang yang paling sering patah. Sekarang ini sudah ada 12 ukuran tulang yang berhasil dibuat, dan rencananya diperbanyak hingga 88 ukuran dengan mengacu pada basis data yang ada.

Ukuran tersebut tidak hanya mencakup ukuran tulang dewasa, tetapi juga ukuran tulang anak-anak. Suyitno menerangkan proses pembuatan pelat penyambung tulang itu mengacu pada ilmu metalurgi.

Untuk maksud tersebut, tim melakukan riset sendiri tanpa belajar langsung kepada para produsen pelat tulang yang tertutup dan monopolistik.

Penelitian yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Pendidikan Tinggi Kemendiknas sebesar 350 juta rupiah itu membuat dua tipe campuran logam, yaitu stainless steel (SS) 316 LPM dan SS 316L.

Kedua campuran logam itu merupakan istilah standar untuk baja tahan karat. Baja kemudian dicampur dengan karbon, nikel, krom, dan molibdenum. Peleburan dilakukan pada suhu 800 hingga 1.300 derajat celcius.

Setelah peleburan selesai, dilakukan proses penempaan dengan mesin tempa. Bahan siap bentuk itu dijadikan komponen jadi berupa pelat. Kini, produk jadi tersebut tengah melalui proses uji klinis dan laboratorium.

Uji klinis dilakukan terhadap tiga pasien patah tulang. Langkah itu dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang meliputi kekuatan, kekerasan, ketahanan lelah, dan ketahanan korosi pelat.

Ketahanan lelah menguji apakah selama mengalami tekanan dan tarikan, pelat tetap kuat atau tidak. Ketahanan korosi diuji karena cairan tubuh mengandung garam klorida yang bersifat merusak logam.

Sementara itu, uji laboratorium dilakukan dengan melakukan radiasi penyinaran (rongent) secara berkala setiap bulannya. “Uji klinis dengan memasang pelat pada pasien sedang berlangsung. Hasilnya akan diperoleh akhir tahun ini.

Awal 2011, produk itu diharapkan siap dipasarkan,” ujar Suyitno. Penelitian tersebut diperkirakan akan banyak memberi manfaat bagi masyarakat. Salah satunya harga pelat akan lebih murah karena tidak lagi diimpor.

Dengan demikian, pengobatan patah tulang pun menjadi lebih murah, setidaknya 0,33 persen dari tarif yang berlaku selama ini. Dengan semakin murahnya tindakan medis dalam mengobati patah tulang, diharapkan masyarakat tidak lagi mencari pengobatan dengan cara alternatif.

Pasalnya, cara tersebut sering kali memberikan hasil tidak sempurna. Manfaat lain dari adanya pelat buatan lokal ialah berkurangnya kebergantungan pada pelat produksi negara lain.

Ukuran pelat pun lebih cocok dengan ukuran kerangka tulang orang Indonesia. Dengan demikian, dokter tidak perlu lagi “mengakali” pelat dengan cara membengkokkannya agar ukurannya pas dengan pasien pribumi.
hay/L-2
Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar