Rabu, 17 November 2010

Menentukan Sumber Air Tanah dengan Akurat

MENENTUKAN SUMBER AIR TANAH DENGAN AKURAT

14 Juli 2010




Masyarakat sering kali mengalami kegagalan ketika hendak membuat sumur lubang maupun sumur pompa. Padahal, mereka telah menggali atau memasukkan pompa ke dalam tanah sedemikian dalam.

Salah satu kegagalan itu disebabkan masyarakat tidak mengenali karakteristik tanah dan zona air tanah. Hal itu bisa dimaklumi. Pasalnya, di daerah dengan ketinggian tertentu, sulit ditemukan air tanah.

Pada tanah dengan karakteristik permeable atau kedap air, akan sulit ditemukan air tanah bebas, yaitu air tanah yang bisa ditemukan dengan menggali sumur biasa.

Untuk menemukan lapisan akuifer, yaitu lapisan aliran air tanah di bawah lapisan kedap air dan menembus lapisan kedap air, biasa nya ditempuh cara pengeboran.

Sayangnya, cara itu kurang efektif karena air tanah tidak ditemukan pada kondisi tanah seperti itu. Oleh karena itu, agar air tanah dapat dengan mudah ditemukan tanpa perlu menggali lebih dalam, sebaiknya terlebih dahulu diketahui zonasi air tanah.

Secara teori, air tanah dengan mudah ditemukan di wilayah luahan atau discharge zone. Wilayah luahan ialah daerah tempat tertampungnya air, dan air tersebut relatif terus berdiam di tempat tersebut.

Pada daerah itu, biasanya terdapat mata air, namun pada daerah resap an air tidak ditemukan air tanah.

Menurut Rachmat Fajar Lubis, peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), secara umum peresapan air tanah dimulai ketika air hujan jatuh ke tanah yang memiliki kemampuan menyerap.

Daerah itu merupakan recharge zone bagi air hujan untuk masuk ke dalam tanah lewat bantuan gravitasi Bumi. Air hujan itu masuk melalui pori-pori tanah, celah batuan, atau rekahan pada batuan atau tanah.

Proses penyerapan itu akan terakumulasi pada titik kedap air. Pada titik itu, air tidak menembus ke bawah karena tidak ada lagi pori-pori atau rekahan sebagai jalan masuk.

Karena banyaknya air yang terkumpul, area tersebut kerap disebut dengan zona jenuh air atau saturated zone. Fajar menjelaskan pergerakan atau aliran air tanah itu menjadi kunci dalam menentukan apakah suatu daerah mengandung banyak air tanah atau tidak.

“Perlu dicatat, tidak seluruh daerah memiliki potensi air tanah alami yang baik,” ujarnya. Namun, sayangnya, zona air sepertinya sering hilang akibat ulah manusia.

Di beberapa wilayah, semisal wilayah padat penduduk dan kawasan industri, air tanah mengalami eksploitasi berlebihan. Setiap hari, dari siang hingga malam, masyarakat mengambil air tanah dengan menggunakan pompa-pompa listrik.

Akibatnya, daerah tersebut kehilangan banyak air dan menjadi kering. Selain kekeringan, eksploitasi yang berlebihan terhadap air tanah bisa menyebabkan penurunan muka tanah.

Tanah menjadi ambles beberapa sentimeter ke bawah. Kondisi itu terjadi di beberapa kota pantai, seperti Semarang dan Jakarta. Menurut Fajar, daerah resapan air merupakan tempat masuknya air ke dalam zona jenuh.

Air itu akan membentuk garis khayal yang disebut dengan muka air tanah. Dengan kata lain, air masuk ke daerah luahan. Bisanya cara untuk menentukan luahan air ialah dengan melihat tekanan air berlawanan dengan daerah luahan yang akan mengalami kenaikan tekanan.

“Kondisi itu dapat diaplikasikan pada saat mengukur tekanan air di suatu lubang bor secara vertikal,” kata Fajar. Namun, Fajar mengatakan untuk mengaplikasikan konsep yang sudah ada masih sulit.

Teori lama yang menyebutkan bahwa air akan mengalir dari daerah dengan topografi tinggi ke rendah tidak selalu berlaku. Pasalnya, selain topografi , air tanah dikendalikan oleh kondisi geologis.

Misalnya, air laut yang kini mengalir ke daratan yang lebih tinggi bisa menjadi contoh bahwa topografi rendah mampu mengalirkan air ke topografi tinggi.

Tiga Kelompok

Lantaran beberapa fenomena terbaru itulah Fajar kemudian mempelajari model aliran air tanah. Agar proses analisis lebih akurat, dia mengklasifikasikan air tanah ke dalam tiga kelompok, yakni aliran air tanah regional, transisi, dan lokal.

Aliran air tanah regional adalah aliran air tanah secara umum. Aliran itu turun langsung ke daerah luahan dan berada di satu cekungan yang sama.

Di daerah antara dua pegunungan dan di bibir-bibir sungai, sering terdapat aliran air tanah regional yang ber ujung pada daerah luahan.

Aliran air tanah lokal terjadi karena adanya perbedaan kondisi alam yang bervariasi. Dengan demikian, pola alirannya pun berbeda-beda atau acak. Luas wilayah dari aliran tanah lokal itu sangat bervariasi sehingga perlu ketelitian untuk mengetahui aspek-aspek yang memengaruhinya.

Aliran air tanah transisi merupakan aliran yang dapat berfl uk tuasi mengikuti aliran regional atau lokal, bergantung pada beberapa parameter alam yang ada yang dihubungkan dengan jejaring air tanah atau flow net.

Fajar yang menyandang gelar doktor dari Universitas Chiba, Jepang, itu mengatakan daerah lokal yang memiliki pola sangat bervariasi menunjukkan aliran air tanahnya dipengaruhi oleh gravitasi, topografi , dan geologi.

Secara geologi, struktur batuan dan rekahan tanah di daerah tersebut memengaruhi kondisi aliran air.

Daerah regional, yang memiliki aliran teratur dari daerah resapan di wilayah atas mengalir ke bawah hingga ke luahan air, menunjukkan bahwa aliran air tanah hanya dipengaruhi oleh kondisi gravitasi.

Agar seseorang dapat menentukan mana daerah aliran, daerah resapan, dan daerah luahan, diperlukan kajian yang lebih mendalam. Artinya pengetahuan tentang pengaruh topografi , gravitasi, dan geologi daerah seyogianya dimiliki.

Metode fisika merupakan salah satu metode untuk merekonstruksi pola sebaran lapisan akuifer. Cara nya melalui pengukuran geolistrik seperti pengukuran tanah, induce polarization atau polarisasi listrik pada permukaan mineral, dan peng ukur an seismik dengan georadar.

Metode lain yang bisa diterapkan ialah metode kimia dengan cara merunut pola pergerakan air tanah. Ketika air tanah melawati suatu media, air akan membawa mineral dari batuan atau tanah yang dilewatinya.

Perunutan dilakukan dengan menganalisis mineral yang dibawa air tanah. Sebelum melakukan pengeboran, kedua metode itu hendaknya dipakai agar penentuan area air tanah bisa lebih akurat.

Dengan demikian, upaya pengeboran pun tidak akan sia-sia dan merusak lingkungan sekitar. hay/L-2
Ditulis oleh Haryo Brono/Koran Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar